BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Farmasi adalah ilmu yang mempelajari
cara membuat, mencampur, meracik formulasi obat, identifikasi, kombinasi,
analisis dan standarisasi / pemnakuan obat serta pengobatan, termasuk pula
sifat-sifat obat dan distribusinya serta penggunaannya yang aman. Profesi
farmasi merupakan profesi yang berhubungan dengan seni dan ilmu penyediaan atau
pengolahan bahan sumber alam dan bahan sintesis yang cocok dan menyenangkan
untuk didistribusikan dan digunakan dalam pengobatan dan pencegahan suatu
penyakit.
Dengan adanya manusia di dunia ini
mulailah muncul peradaban dan mulai terjadi penyebaran penyakit yang
dilanjutkan dengan usaha masyarakat untuk melakukan pencegahan terhadap
penyakit. Pada perkembangan selanjutnya masyarakat melakukan pencegahan atupun
penyembuhan suatu penyakit dengan menggunakan ataupun mengkonsumsi obat yang
diantaranya yaitu obar dalam bentuk sediaan emusi.
Emulsi berasal dari kata “emulgeo”
yang artinya menyerupai susu, dan warna emusi memang putih seperti susu. Pada abad
XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian yang mengandung lemak, protein, dan
air. Hingga akhirnya pada pertengahan abad XVIII , seorang ahli farmasi dari
perancis memperkenalkan pembuatan emulsi dari oleum olivarum, oleum anisi dan
eugenol oil dengan menggunakan penambahan gom arab, tragakan, dan kuning telur
sebagai emulgator. Pada dasarnya sudah menjadi ketentuan umum bahwa yang
disebut sebagai “emulsi” menunjukan pada sediaan cair yang dimaksudkan untuk
penggunaan oral. Emulsi untuk penggunaan eksternal biasanya langsung disebut
sebagai cream (sediaan semisolid), lotion atau liniment ( sediaan liquid),
hingga akhirnya sediaan emulsi ataupun lotio banyak digunakan oleh kalangan
masyarakat dalam penyembuhan suatu penyakit.
Peracikan obat berupa emulsi ataupun
lotio ini yang memenuhi persyaratan farmasetik penting diketahui untuk dapat
diterapkan pada pelayanan kefarmasian di lingkungan masyarakat.
B.
Tujuan
Tujuan kita melakukan praktikum ini
adalah agar kita dapat mengetahui cara pembuatan sediaan emulsi atau lotio yang
memenuhi kriteria serta kita dapat pula menambah pengetahuan dan pengalaman
dalam melakukan praktikum.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Farmakope Indonesia edisi IV,
emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam
cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil.
Menurut buku
Ilmu Meracik Obat, emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau
larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat
pengemulsi atau surfaktan yang cocok. Sedangkan menurut buku Formularium
Nasional, emulsi adalah sediaan berupa campuran terdiri dari dua fase cairan
dalam sistem dispersi; fase cairan yang satu terdispersi sangat halus dan
merata dalam fase cairan lainnya, umumnya dimantapkan oleh zat pengemulsi.
Berdasarkan
fase terdispersinya emulsi terbagi atas 2, yaitu :
1.
Emulsi tipe M/A, adalah emulsi yang
terdiri atas butiran minyak yang tersebar atau terdispersi ke dalam air. Minyak
sebagai fase internal dan air sebagai fase eksternal.
2.
Emulsi tipe A/M, adalah emulsi yang
terdiri atas butiran air yang tersebar atau terdispersi ke dalam minyak. Air
sebagai fase internal dan minyak sebagai fase eksternal.
Emulsi dapat
distabilkan dengan penambahan bahan pengemulsi yang disebut emulgator (
emulsifying agent ) atau surfaktan yang dapat mencegah koalesensi, yaitu
penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besar dan akhirnya menjadi satu fase
tunggal yang memisah. Surfaktan menstabilkan emulsi dengan cara menempati
antar- permukaan tetesan dengan fase eksternal, dan dengan membuat batas fisik
disekeliling partikel yang akan berkoalesensi.surfaktan juga mengurangi
tegangan permukaan antar fase sehingga meningkatkan proses emulsifikasi selama
pencampuram.
Komponen Emulsi
Komponen emulsi dapat digolongkan
menjadi dua macam,yaitu :
1. Komponen
dasar, yaitu bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi ,
terdiri atas
·
Fase dispers/fase internal/ fase diskontinu/
fase terdispersi/ fase dalam , yaitu zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran
kecil di dalam zat cair lain.
·
Fase eksternal/ fase kontinu/ fase
pendispersi/ fase luar , yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai
bahan dasar atau bahan pendukung emulsi tersebut.
·
Emulgator , yaitu bagian dari emulsi
yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi.
2. Komponen
tambahan, dalah bahan tambahan yang sering ditambahan ke dalam emulsi untuk
memperoleh hasil yang lebih baik.
Emulsi dikatakan stabil jika :
·
Tidak ada perubahan yang berarti dalam
ukuran partikel atau distribusi partikel dari globul fase dalam selama life
time produk.
·
Distribusi globul yang teremulsi adalah
honogen.
·
Mudah mengalir atau tersebar tetapi
memiliki viskositas yang tinggi untuk meningkatkan stabilitas fisiknya.
1. Flokulasi
dan creaming
Flokulasi adalah suatu peristiwa
terbentuknya kelompok-kelompok globul yang posisinya tidak beraturan.
Creaming adalah suatu peristiwa
terjadinya lapisan-lapisan dengan konsentrasi yang berbeda-beda di dalam
emulsi.
2. Koalesen
dan breaking
Koalesen merupakan proses
bergabungnya droplet yang akan diikuti dengan breaking yaitu pemisahan fase
terdispersi dari fase kontinu. Proses irrevesibel karena lapisan emulgator yang
mengelilingi cairan sudah tidak ada.
3. Inversi
fase
Infersi fase adalah proses
perubahan dimana fase terdispersi berubah fungsi menjadi medium pendispersi dan
sebaliknya.
Faktor- faktor yang mempengaruhi
stabilitas emulsi :
·
Ukuran partikel
·
Perbedaan bobot jenis kedua fase
·
Viskositas fase kontinu
·
Muatan partikel
·
Sifat efektifitas dan jumlah emulgator
yang digunakan
·
Kondisi penyimpanan : suhu, ada/
tidaknya agitasi dvibrasi
·
Penguapan atau pengenceran selama
penyimpanan
·
Adanya kontaminasi dan pertumbuhan
mikroorganisme
Keuntungan dan kerugian Emulsi
Keuntungan sediaan Emulsi :
·
Menutupi rasa minyak yang tidak enak
·
Lebih mudah dicerna dan diabsorpsi
karena ukuran minyak diperkecil
·
Memperbaiki penampilan sediaan karena
merupakan campuran yang homogen secara visual
·
Meningkatkan stabilitas obat yang lebih
mudah terhidrolisa dalam air.
Kerugian sediaan Emulsi :
· Sediaan
emulsi kurang praktis daripada sediaan tablet
· Sediaan
emulsi mempunyai stabilitas yang rendah daripada sediaan tablet karena cairan
merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri
· Takaran
dosisnya kurang teliti.
Emulgator
Untuk
mencegah penggabungan kembali globul-globul diperlukan suatu zat yang dapat
membentuk lapisan film diantara globul-globul tersebut sehingga proses
penggabungan menjadi terhalang, zat tersebut adalah zat pengemulsi (emulgator ).
Emulgator dapat dibedakan berdasarkan :
1.Berdasarkan
mekanismenya
a.
Golongan surfaktan, memiliki mekanisme
kerja menurunkan tegangan permukaan / antar permukaan minyak-air serta
membentuk lapisan film monomolekuler ada permukaan globul fase terdispersi.
Jenis-jenis surfaktan :
ü Berdasarkan
jenis surfaktan
ü Surfaktan
anionic, contoh : na- lauril sulfat, na-oleat sulfat, na-stearat.
ü Surfaktan
kationik, contoh : zehiran klorida, setil trimetil ammonium bromide.
ü Surfaktan
non ionic, contoh : tween 80, span 80.
ü Berdasarkan
HLB ( hidrophyl lipophyl – balance )
b.
Golongan koloid hidrofil, membentuk
lapisan film multimolekuler di sekeliling globul yang terdispersi. Contoh :
akasia, tragakan, CMC, tylosa.
c.
Golongan Zat Terbagi Halus, membentuk
lapisan film mono dan multimolekuler, oleh adanya partikel halus yang
teradsorpsi pada antar permukaan kedua fase. Contoh: bentonit, veegum.
1.Berdasarkan sumber
a.
Bahan alam, contoh : gom arab, tragakan,
agar, male extract.
b.
Polisakarida semisintetik, contoh :
metyl selulosa, na- carboxymethylselulosa
CMC)
c.
Emulgator sintetik : surfaktan, sabun,
dan alkali, alcohol ( cetyl alcohol, gliserin ), carbowaxes ( PGA ), lesitin (
fosfolipid ).
Cara
Pembuatan Emulsi
Dikenal
tiga metode dalam pembuatan emulsi, secara singkat dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1.Metode Gom Kering atau Metode
kontinental
Dalam
metode ini, zat pengemulsi ( biasanya gom arab ) dicampur dengan minyak
terlebih dahulu kemudian ditambahkan air untuk membentuk korpus emulsi, baru
diencerkan dengan sisa air yang tersdia.
2.Metode
Gom Basah atau Metode Inggris
Zat pengemulsi
ditambahkan ke dalam air ( zat pengemulsi umumya larut dalam air ) agar
membentuk suatu musilago, kemudian perlahan-lahan minyak dicampurkan untuk
membentuk emulsi, kemudian diencerkan dengan sisa air.
3.Metode Botol atau Metode Botol Forbes
Digunakan untuk
minyak menguap dan zat-zat yang bersifat minyak dan mempunyai viskositas rendah
( kurang kental ). Serbuk gom dimasukkan ke dalam botol kering, ditambahkan dua
bagian air, botol ditutup, kemudian campuran tersebut dikocok dengan kuat.
Tambahkan sisa air sedikit demi sedikit sambil dikocok.
Cara
membedakan tipe emulsi
Dikenal
beberapa cara membedakan tipe emulsi, yaitu :
·
Dengan pengenceran fase
·
Dengan pengecatan atau pewarnaan
·
Dengan kertas saring atau kertas tisu
·
Dengan konduktivitas listrik
LABORATORIUM
FARMASETIKA 1
DIPLOMA
III
AKADEMI
FARMASI BINA HUSADA
KENDARI
JURNAL FARMASETIKA I
RESEP 11
O L E H
NAMA : RAFIUDDIN
NIM : F.10.105
KELOMPOK : XIV
ASISTEN : Nur Sa’adah Daud, S.Farm, Apt
AKADEMI
FARMASI BINA HUSADA
KENDARI
2011
v RESEP
NO.11
R/ Balsem
peru 4
PGA
qs
Tannin
3
Gliserin
40
Aqua
ad 60
m.f.emuls
|
v KELENGKAPAN
RESEP
Dr. Indramayu
SIP. 456/IDI/2002
Jln. Merpati 28 Kendari
Telp. 2345210
|
No. 011 25-05-2011
R/ Balsem
peru 4
PGA
qs
Tannin
3
Gliserin
40
Aqua
ad 60
m.f.emuls
Pro :
Awal
Umur : Dewasa
Alamat : Jln. Rambutan No.4
Pro :
Tn. Wahyu
Umur : Dewasa
Alamat : Jln. Rambutan No.24
|
Keterangan :
·
R/ :
Recipe : Ambillah
·
M.f.emuls : misce fac emulsi :
campur dan buat emulsi
·
pro :
propere : untuk
v PERMASALAHAN
-
Meracik balsam peru
-
Menghitung jumlah PGA yang digunakan
v PENYELESAIAN
PERMASALAHAN
-
Dalam meracik balsam peru, lumpang yang
digunakan harus dipanaskan terlebih dahulu dengan cara pemberian sedikit etanol
dalam lumpang lalu dibakar
-
Dalam menghitung jumlah PGA yang
digunakan, PGA sama banyak dengan jumlah minyak lemak yang digunakan
v URAIAN
BAHAN
1. BALSEM
PERU (FI. Edisi III Hal. 102 )
Nama resmi : BALSAMUM PERUVIANUM
Nama sinonim : balsam peru
Pemerian : cairan kental, lengket, tidak
berserat, coklat tua, dalam
lapisan tipis berwarna coklat, transparan kemerahan,
bau aromatic khas menyerupai vanilin
Kelarutan : larut dalam kloroform p, sukar
larut dalam eter p,
dalam eter minyak tanah p, dan dalam asam
asetat
glacial p
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Khasiat : antiseptikum ekstern ( obat
yang digunakan untuk
mencegah luka luar agar tidak membusuk )
2. PULVIS
GUMMI ACACIAE (FI. Edisi IV Hal. 718 )
Nama resmi : PULVIS GUMMI ACACIAE
Nama sinonim : serbuk Gom Arab, serbuk Gom Akasia
Pemerian : serbuk, putih atau putih
kekuningan, tidak berbau
Kelarutan : larut hampir sempurna dalam air,
tetapi sangat lambat,
meninggalkan sisa bagian tanaman dalam jumlah
sangat sedikit, dan memberikan cairan seperti
musilago, tidak berwarna atau kekuningan,
kental,
lengket, transparan, bersifat asam lemah
terhadap
kertas lakmus biru, praktis tidak larut dalam
etanol
dan dalam eter
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
3. TANIN
(FI. Edisi V Hal. 594 )
Nama resmi : TANNINUM
Nama sinonim : Tannine
Pemerian : sisik yang mengkilap, ringan
atau serbuk kuning
kelabu, ringan, hampir tak berbau dan rasanya
sangat
kelat
Kelarutan : mudah larut dalam air, dalam
spiritus, dan dalam
gliserol
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, terlindung
dari cahaya
Khasiat : zat tambahan
4. GLISERIN
( FI Edisi III Hal. 271 )
Nama resmi : GLYCEROLUM
Nama sinonim : gliserol, gliserin
Pemerian : cairan seperti sirop, jernih,
tidak berwarna, tidak
berbau, manis diikuti rasa hangat,
higroskopik. Jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat
memadat membentuk massa hablur tidak berwarna
yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih
kurang 200
Kelarutan : dapat campur dengan air, dan
dengan etanol (95%)p,
praktis tidak larut dalam kloroform p, dalam
eter p dan
dalam minyak lemak
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Khasiat : zat tambahan
1. AQUADEST
( FI.Edisi III Hal.96 )
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama sinonim : Air suling, Air murni
Rumus molekul : H2O
Berat molekul : 18.02
Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna;
tidak berbau;tidak
mempunyai rasa
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
v PERHITUNGAN
BAHAN
1
Balsem peru : 4 gram
2. PGA
: 4 gram
Air
untuk PGA : 1,5 x 4 = 6 gram ∞ 6
mL
3. Tannin
: 3 gram
4. Gliserin
: 40 gram
5. Aqua
ad 60 gram ∞ 60 mL
v CARA
KERJA
1. Siapkan
alat dan bahan yang digunakan
2. Setarakan
timbangan
3. Tara
botol 60 gram
4. Timbang
balsam peru 4 gram pada cawan yang telah ditara
5. Timbang
PGA 4 gram di kertas perkamen
6. Masukkan
PGA kedalam lumpang, tambahkan 6 mL air hangat, aduk hingga homogen
7. Ambil
lumpang lain lalu berikan sedikit etanol untuk membakar lumpang, masukkan
balsem peru pada lumpang yang masih panas, gerus hingga larut
8. Tambahkan
gliserin 40 gram, dan tannin 3 gram gerus hingga homogen
9. Masukkan
PGA dalam campuran balsem peru, gliserin, dan tannin, kemudian gerus hingga
membentuk corpus emulsi
10. Encerkan
dengan air hangat, kemudian masukkan kedalam botol
11. Tambahkan
dengan aquadest hingga 60 gram lalu kocok hingga emulsi dingin
12. Beri
etiket biru
v ETIKET
BIRU
APOTEK BINA HUSADA
Jln. Sorumba No. 17
C Telp. 319130
Apoteker : Rafiuddin
SIK :
F.10.065
R/No : 11 Tgl.31-03-2011
Nama : Awal
Aturan pakai : Dioleskan pada bagian
yang
sakit
Obat Luar
|
LABORATORIUM
FARMASETIKA 1
DIPLOMA
III
AKADEMI
FARMASI BINA HUSADA
KENDARI
JURNAL FARMASETIKA I
RESEP 11
O L E H
NAMA : RAFIUDDIN
NIM : F.10.105
KELOMPOK : XIV
ASISTEN : Nur Sa’adah Daud, S.Farm, Apt
AKADEMI
FARMASI BINA HUSADA
KENDARI
2011
v RESEP
NO.12
R/ paraffin
cair 45%
Malam
putih 7,5%
Lanolin
anhidrat 2%
Cetyl
alcohol 1%
Petrolatum
20%
Tween
40
Span
40 aa 2%
α
tokoferol 0,03%
metil
paraben 0,18%
propel
paraben 0,02%
propilenglikol
5%
ol.
rosae 0,5%
aqua ad 100%
|
v KELENGKAPAN
RESEP
Dr. Indramayu
SIP. 456/IDI/2002
Jln. Merpati 28 Kendari
|
No. 012 01-06-2011
R/ paraffin
cair 45%
Malam
putih 7,5%
Lanolin
anhidrat 2%
Cetyl
alcohol 1%
Petrolatum
20%
Tween
40
Span
40 aa 2%
α
tokoferol 0,03%
metil
paraben 0,18%
propel
paraben 0,02%
propilenglikol
5%
ol.
rosae 0,5%
aqua ad 100%
Pro :
ida (dewasa)
Alamat : Jln. Rambutan No.4
Pro :
Tn. Wahyu
Umur : Dewasa
Alamat : Jln. Rambutan No.24
|
Keterangan :
·
R/ :
Recipe : Ambillah
·
Sue :
signa usus externum : tandai
pemakaian luar
·
pro :
propere : untuk
v URAIAN
BAHAN
1. PARAFIN
CAIR (FI Edisi III Hal. 474 )
Nama resmi : PARAFFINUM LIQUIDUM
Nama sinonim : parafin cair
Pemerian : cairan kental, transparan, tidak
berfluoresensi, tidak
berwarna, hampir tidak berbau, hampir tidak
mempunyai rasa
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dan
dalam etanol (95%)p,
larut dalam kloroform p dan dalam eter p
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, terlindung
dari cahaya
Khasiat :
laksativum ( obat untuk pencahar dalam tubuh )
2. CERA
ALBA (FI Edisi III Hal. 140 )
Nama resmi : CERA ALBA
Nama sinonim : malam putih
Pemerian : zat padat, lapisan tipis bening,
putih kekuningan, bau
khas lemah
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air,
agak sukar larut dalam
etanol (95%)p dingin, larut dalam kloroform
p, dalam
eter p hangat, dalam minyak lemak dan dalam minyak
atsiri
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Khasiat : Zat tambahan
3. LANOLIN
ANHIDRAT (FI Edisi III Hal. 61 )
Nama resmi : ADEPS LANAE
Nama sinonim : lanolin, lemak bulu domba
Pemerian : zat serupa lemak, liat, lekat, kuning muda atau
kuning
pucat, agak tembus cahaya, bau lemah, dan
khas
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut
dalam
etanol (95%)p,mudah larut dalam kloroform p dan
dalam eter
p
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya,
ditempat sejuk
Khasiat : Zat tambahan
4. CETYL
ALKOHOL (FI Edisi IV Hal.72 )
Nama resmi : ALCOHOLUM CETYLICUM
Nama sinonim : setil alcohol
Rumus molekul : C16H34O
Pemerian : serpihan putih licin, granul atau kubus,putih, bau
khas
lemah, rasa lemah
Kelarutan : tidak larut dalam air, larut dalam etanol (95%)p dan
eter p.
kelarutan bertambah dengan naiknya suhu
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
Khasiat : Zat tambahan
5. VASELIN
ALBUM (FI Edisi III Hal.633 )
Nama resmi : VASELINUM ALBUM
Nama sinonim : vaselin putih, petrolatum
Pemerian : massa linak, lengket, bening, putih. Sifat ini tetap
setelah zat dileburkan dan dibiarkan hingga
dingin
tanpa diaduk
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air
dalam etanol (95%)p,
larut
dalam kloroform p, dalam eter p, dan dalam eter
minyak
tanah p. larutan kadang-kadang beropalesensi
lemah
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Khasiat : Zat tambahan
6. TWEEN
80 (Remingtons Hal.1355 )
Nama resmi : POLYSORBATE 80
Nama sinonim : tween 80
Pemerian : sitrum batu amber, berwarna,
cairan minyak lemak,
karakter bau khas lemah dan panas kemudian
diikuti
rasa pahit, gaya berat antara 1,07 dan 1,09,
viskositas
345-445 cintistokes sampai suhu 250C,
PH larutan
antara 6 dan 8
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air dan
dalam etanol, larut
dalam minyak biji kapas, minyak jagung, etil
asetat p,
metanol dan toluena, tidak larut dalam minyak
mineral
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, terlindung
dari cahaya
Khasiat :
digunakan sebagai emulgator dalam preparat dari
obat, kosmetik, dan produk lainnya
7. SPAN
80 (Remingtons Hal.1356)
Nama resmi : POLYETYLENE GLICOL 400 MONOSTEARAT
Nama sinonim : span 80
Pemerian : setengah transparan, putih,
tidak berbau atau hampir
tidak berbau, melebur pada suhu 300C
- 340C
Kelarutan : mudah larut dalam karbon
tetraklorida, kloroform,
eter dan petroleum benzin p, sukar larut
dalam etanol,
tidak larut dalam air
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Khasiat :
emulgator yaitu emulsi agent yang membantu proses
emulsifikasi
8. TOKOFEROL
(FI Edisi III Hal. 606)
Nama resmi : TOCOPHEROLUM
Nama sinonim : tokoferol, vitamin E
Pemerian : tokoferil tidak berbau atau
sedikit berbau, tidak berasa
atau sedikit tidak berasa, α-tokoferol dan
α-tokoferil
asetat, cairan seperti minyak, kuning,
jernih, d-α
tokoferil asetat pada suhu dingin bentuk
padat, α
-tokoferil asam suksinat, serbuk putih,
d-isomernya
melebur pada suhu lebih kurang 750
dan di
-resemisnya melebur pada suhu lebih kurang 700.
Sediaannya cair seperti minyak, kuning hingga
merah
kecoklatan, jernih. Bentuk esternya stabil di
udara dan
cahaya, tetapi tidak stabil dalam alkali,
bentuk asam
suksinatnya tidak stabil, jika dilebur
α-tokoferol tidak
stabil diudara dan cahaya, terutama dalam
suasana
alkalis
kelarutan : α-tokoferil asam suksinat
praktis tidak larut dalam air,
sukar larut dalam larutan alkali, larut dalam
etanol
(95%)p, dalam eter p, dalam aseton p, dan
dalam
minyak nabati, sangat mudah larut dalam
kloroform p.
bentuk lain tokoferol praktis tidak larut
dalam air,
larut dalam etanol (95%)p, dan dapat campur
dengan
eter p, dengan aseton p, dengan minyak nabati
dan
dengan klorofom p
penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, terlindung
dari cahaya
khasiat : - antioksidan ( obat yang
digunakan untuk menjaga
kelembaban kulit )
- vitamin E
9. METIL
PARABEN ( FI Edisi III Hal. 378 )
Nama resmi : METHYLIS PARABENUM
Nama sinonim : metil paraben, nipagin
Rumus molekul : C8H8O3
Berat molekul : 152, 15
Rumus bangun :
COOCH3
OH
Metil – p – hidroksibenzoat
Pemerian : serbuk hablur halus, putih,
hampir tidak berbau, tidak
mempunyai rasa, kemudian agak membakar
diikuti
rasa tebal
kelarutan : larut dalam 500 bagian air,
dalam 20 bagian air
mendidih, dalam 3,5 bagian etanol (95%)p, dan
dalam
3 bagian aseton p, mudah larut dalam eter p,
dan
dalam larutan alkali hidroksida, larut dalam
60 bagian
gliserol p panas dan dalam 40 bagian minyak
lamak
nabati panas, jika didinginkan larutan tetap
jarnih
penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
khasiat : zat tambahan, zat pengawet
10. PROPIL
PARABEN ( FI Edisi III Hal. 535 )
Nama resmi : PROPYLIS PARABENUM
Nama sinonim : propel paraben, nipasol
Rumus molekul : C10H12O3
Berat molekul : 180, 21
Rumus bangun :
COOC3H7
OH
Propil – p – hidroksibenzoat
Pemerian : serbuk hablut putih, tidak
berbau, tidak berasa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar