Senin, 28 November 2011

EMULSI

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

        Farmasi adalah ilmu yang mempelajari cara membuat, mencampur, meracik formulasi obat, identifikasi, kombinasi, analisis dan standarisasi / pemnakuan obat serta pengobatan, termasuk pula sifat-sifat obat dan distribusinya serta penggunaannya yang aman. Profesi farmasi merupakan profesi yang berhubungan dengan seni dan ilmu penyediaan atau pengolahan bahan sumber alam dan bahan sintesis yang cocok dan menyenangkan untuk didistribusikan dan digunakan dalam pengobatan dan pencegahan suatu penyakit.

        Dengan adanya manusia di dunia ini mulailah muncul peradaban dan mulai terjadi penyebaran penyakit yang dilanjutkan dengan usaha masyarakat untuk melakukan pencegahan terhadap penyakit. Pada perkembangan selanjutnya masyarakat melakukan pencegahan atupun penyembuhan suatu penyakit dengan menggunakan ataupun mengkonsumsi obat yang diantaranya yaitu obar dalam bentuk sediaan emusi.

         Emulsi berasal dari kata “emulgeo” yang artinya menyerupai susu, dan warna emusi memang putih seperti susu. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian yang mengandung lemak, protein, dan air. Hingga akhirnya pada pertengahan abad XVIII , seorang ahli farmasi dari perancis memperkenalkan pembuatan emulsi dari oleum olivarum, oleum anisi dan eugenol oil dengan menggunakan penambahan gom arab, tragakan, dan kuning telur sebagai emulgator. Pada dasarnya sudah menjadi ketentuan umum bahwa yang disebut sebagai “emulsi” menunjukan pada sediaan cair yang dimaksudkan untuk penggunaan oral. Emulsi untuk penggunaan eksternal biasanya langsung disebut sebagai cream (sediaan semisolid), lotion atau liniment ( sediaan liquid), hingga akhirnya sediaan emulsi ataupun lotio banyak digunakan oleh kalangan masyarakat dalam penyembuhan suatu penyakit.

        Peracikan obat berupa emulsi ataupun lotio ini yang memenuhi persyaratan farmasetik penting diketahui untuk dapat diterapkan pada pelayanan kefarmasian di lingkungan masyarakat.



B.     Tujuan

        Tujuan kita melakukan praktikum ini adalah agar kita dapat mengetahui cara pembuatan sediaan emulsi atau lotio yang memenuhi kriteria serta kita dapat pula menambah pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan praktikum.











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


        Menurut Farmakope Indonesia edisi IV, emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil.
Menurut buku Ilmu Meracik Obat, emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. Sedangkan menurut buku Formularium Nasional, emulsi adalah sediaan berupa campuran terdiri dari dua fase cairan dalam sistem dispersi; fase cairan yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan lainnya, umumnya dimantapkan oleh zat pengemulsi.

Berdasarkan fase terdispersinya emulsi terbagi atas 2, yaitu :
1.      Emulsi tipe M/A, adalah emulsi yang terdiri atas butiran minyak yang tersebar atau terdispersi ke dalam air. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase eksternal.
2.      Emulsi tipe A/M, adalah emulsi yang terdiri atas butiran air yang tersebar atau terdispersi ke dalam minyak. Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase eksternal.

Emulsi dapat distabilkan dengan penambahan bahan pengemulsi yang disebut emulgator ( emulsifying agent ) atau surfaktan yang dapat mencegah koalesensi, yaitu penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besar dan akhirnya menjadi satu fase tunggal yang memisah. Surfaktan menstabilkan emulsi dengan cara menempati antar- permukaan tetesan dengan fase eksternal, dan dengan membuat batas fisik disekeliling partikel yang akan berkoalesensi.surfaktan juga mengurangi tegangan permukaan antar fase sehingga meningkatkan proses emulsifikasi selama pencampuram.


       Komponen Emulsi

Komponen emulsi dapat digolongkan menjadi dua macam,yaitu :
1.      Komponen dasar, yaitu bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi , terdiri atas
·         Fase dispers/fase internal/ fase diskontinu/ fase terdispersi/ fase dalam , yaitu zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil di dalam zat cair lain.
·         Fase eksternal/ fase kontinu/ fase pendispersi/ fase luar , yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar atau bahan pendukung emulsi tersebut.
·         Emulgator , yaitu bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi.
2.      Komponen tambahan, dalah bahan tambahan yang sering ditambahan ke dalam emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Emulsi dikatakan stabil jika :
·         Tidak ada perubahan yang berarti dalam ukuran partikel atau distribusi partikel dari globul fase dalam selama life time produk.
·         Distribusi globul yang teremulsi adalah honogen.
·         Mudah mengalir atau tersebar tetapi memiliki viskositas yang tinggi untuk meningkatkan stabilitas fisiknya.
1.      Flokulasi dan creaming
Flokulasi adalah suatu peristiwa terbentuknya kelompok-kelompok globul yang posisinya tidak beraturan.
Creaming adalah suatu peristiwa terjadinya lapisan-lapisan dengan konsentrasi yang berbeda-beda di dalam emulsi.

2.      Koalesen dan breaking
Koalesen merupakan proses bergabungnya droplet yang akan diikuti dengan breaking yaitu pemisahan fase terdispersi dari fase kontinu. Proses irrevesibel karena lapisan emulgator yang mengelilingi cairan sudah tidak ada.
3.      Inversi fase
Infersi fase adalah proses perubahan dimana fase terdispersi berubah fungsi menjadi medium pendispersi dan sebaliknya.

Faktor- faktor yang mempengaruhi stabilitas emulsi :
·         Ukuran partikel
·         Perbedaan bobot jenis kedua fase
·         Viskositas fase kontinu
·         Muatan partikel
·         Sifat efektifitas dan jumlah emulgator yang digunakan
·         Kondisi penyimpanan : suhu, ada/ tidaknya agitasi dvibrasi
·         Penguapan atau pengenceran selama penyimpanan
·         Adanya kontaminasi dan pertumbuhan mikroorganisme

               


  Keuntungan dan kerugian Emulsi
      Keuntungan sediaan Emulsi :
·         Menutupi rasa minyak yang tidak enak
·         Lebih mudah dicerna dan diabsorpsi karena ukuran minyak diperkecil
·         Memperbaiki penampilan sediaan karena merupakan campuran yang homogen secara visual
·         Meningkatkan stabilitas obat yang lebih mudah terhidrolisa dalam air.

Kerugian sediaan Emulsi :
·      Sediaan emulsi kurang praktis daripada sediaan tablet
·      Sediaan emulsi mempunyai stabilitas yang rendah daripada sediaan tablet karena cairan merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri
·      Takaran dosisnya kurang teliti.
                                                                                                                                                                                                                                                     

       Emulgator
        Untuk mencegah penggabungan kembali globul-globul diperlukan suatu zat yang dapat membentuk lapisan film diantara globul-globul tersebut sehingga proses penggabungan menjadi terhalang, zat tersebut adalah zat pengemulsi  (emulgator ).
Emulgator dapat dibedakan berdasarkan :
1.Berdasarkan mekanismenya
a.                   Golongan surfaktan, memiliki mekanisme kerja menurunkan tegangan permukaan / antar permukaan minyak-air serta membentuk lapisan film monomolekuler ada permukaan globul fase terdispersi. Jenis-jenis surfaktan :
ü  Berdasarkan jenis surfaktan
ü  Surfaktan anionic, contoh : na- lauril sulfat, na-oleat sulfat, na-stearat.
ü  Surfaktan kationik, contoh : zehiran klorida, setil trimetil ammonium bromide.
ü  Surfaktan non ionic, contoh : tween 80, span 80.
ü  Berdasarkan HLB ( hidrophyl lipophyl – balance )
b. Golongan koloid hidrofil, membentuk lapisan film multimolekuler di sekeliling globul yang terdispersi. Contoh : akasia, tragakan, CMC, tylosa.
c.  Golongan Zat Terbagi Halus, membentuk lapisan film mono dan multimolekuler, oleh adanya partikel halus yang teradsorpsi pada antar permukaan kedua fase. Contoh: bentonit, veegum.
1.Berdasarkan sumber
a.       Bahan alam, contoh : gom arab, tragakan, agar, male extract.
b.      Polisakarida semisintetik, contoh : metyl selulosa, na- carboxymethylselulosa  CMC)
c.       Emulgator sintetik : surfaktan, sabun, dan alkali, alcohol ( cetyl alcohol, gliserin ), carbowaxes ( PGA ), lesitin ( fosfolipid ).



Cara Pembuatan Emulsi
Dikenal tiga metode dalam pembuatan emulsi, secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.Metode Gom Kering atau Metode kontinental 
Dalam metode ini, zat pengemulsi ( biasanya gom arab ) dicampur dengan minyak terlebih dahulu kemudian ditambahkan air untuk membentuk korpus emulsi, baru diencerkan dengan sisa air yang tersdia.
2.Metode Gom Basah atau Metode Inggris
Zat pengemulsi ditambahkan ke dalam air ( zat pengemulsi umumya larut dalam air ) agar membentuk suatu musilago, kemudian perlahan-lahan minyak dicampurkan untuk membentuk emulsi, kemudian diencerkan dengan sisa air.
      3.Metode Botol atau Metode Botol Forbes
Digunakan untuk minyak menguap dan zat-zat yang bersifat minyak dan mempunyai viskositas rendah ( kurang kental ). Serbuk gom dimasukkan ke dalam botol kering, ditambahkan dua bagian air, botol ditutup, kemudian campuran tersebut dikocok dengan kuat. Tambahkan sisa air sedikit demi sedikit sambil dikocok.

Cara membedakan tipe emulsi
Dikenal beberapa cara membedakan tipe emulsi, yaitu :
·         Dengan pengenceran fase
·         Dengan pengecatan atau pewarnaan
·         Dengan kertas saring atau kertas tisu
·         Dengan konduktivitas listrik













LABORATORIUM FARMASETIKA 1
DIPLOMA III
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA
KENDARI                                                 


JURNAL FARMASETIKA I
RESEP 11



O L E H


NAMA            : RAFIUDDIN
NIM                : F.10.105
KELOMPOK : XIV
ASISTEN       : Nur Sa’adah Daud, S.Farm, Apt


AKADEMI FARMASI BINA HUSADA
KENDARI
2011
v  RESEP NO.11
R/        Balsem peru                4
            PGA                            qs
            Tannin                         3
            Gliserin                        40
            Aqua ad                      60
            m.f.emuls









v  KELENGKAPAN RESEP
Dr. Indramayu
SIP. 456/IDI/2002
Jln. Merpati 28 Kendari
Telp. 2345210

No. 011                                   25-05-2011
R/        Balsem peru                4
            PGA                            qs
            Tannin                         3
            Gliserin                        40
            Aqua ad                      60
            m.f.emuls

Pro       : Awal
Umur   : Dewasa
Alamat            : Jln. Rambutan No.4



   

Pro       : Tn. Wahyu
Umur   : Dewasa
Alamat : Jln. Rambutan No.24
















            Keterangan :
·         R/                    : Recipe                                   : Ambillah
·         M.f.emuls        : misce fac emulsi                    : campur dan buat emulsi
·         pro                   : propere                                  : untuk
v  PERMASALAHAN
-          Meracik balsam peru
-          Menghitung jumlah PGA yang digunakan

v  PENYELESAIAN PERMASALAHAN
-          Dalam meracik balsam peru, lumpang yang digunakan harus dipanaskan terlebih dahulu dengan cara pemberian sedikit etanol dalam lumpang lalu dibakar
-          Dalam menghitung jumlah PGA yang digunakan, PGA sama banyak dengan jumlah minyak lemak yang digunakan

v  URAIAN BAHAN
1.      BALSEM PERU  (FI. Edisi III Hal. 102 )
Nama resmi           : BALSAMUM PERUVIANUM
Nama sinonim       : balsam peru
Pemerian               : cairan kental, lengket, tidak berserat, coklat tua, dalam
                                lapisan tipis berwarna coklat, transparan kemerahan,
                                bau aromatic khas menyerupai vanilin 
Kelarutan              : larut dalam kloroform p, sukar larut dalam eter p,
  dalam eter minyak tanah p, dan dalam asam asetat
  glacial p
Penyimpanan         : dalam wadah tertutup baik
Khasiat                  : antiseptikum ekstern ( obat yang digunakan untuk
  mencegah luka luar agar tidak membusuk )
2.      PULVIS GUMMI ACACIAE (FI. Edisi IV Hal. 718 )
Nama resmi           : PULVIS GUMMI ACACIAE
Nama sinonim       : serbuk Gom Arab, serbuk Gom Akasia
Pemerian               : serbuk, putih atau putih kekuningan, tidak berbau
Kelarutan              : larut hampir sempurna dalam air, tetapi sangat lambat,
  meninggalkan sisa bagian tanaman dalam jumlah
  sangat sedikit, dan memberikan cairan seperti
  musilago, tidak berwarna atau kekuningan, kental,
  lengket, transparan, bersifat asam lemah terhadap
  kertas lakmus biru, praktis tidak larut dalam etanol
  dan dalam eter
Penyimpanan         : dalam wadah tertutup baik

3.      TANIN (FI. Edisi V Hal. 594 )
Nama resmi           : TANNINUM
Nama sinonim       : Tannine
Pemerian               : sisik yang mengkilap, ringan atau serbuk kuning
  kelabu, ringan, hampir tak berbau dan rasanya sangat
  kelat 
Kelarutan              : mudah larut dalam air, dalam spiritus, dan dalam
  gliserol
Penyimpanan         : dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
Khasiat                  : zat tambahan

4.      GLISERIN ( FI Edisi III Hal. 271 )
Nama resmi           : GLYCEROLUM
Nama sinonim       : gliserol, gliserin
Pemerian               : cairan seperti sirop, jernih, tidak berwarna, tidak
  berbau, manis diikuti rasa hangat, higroskopik. Jika   disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat
  memadat membentuk massa hablur tidak berwarna
  yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih
  kurang 200
Kelarutan              : dapat campur dengan air, dan dengan etanol (95%)p,
  praktis tidak larut dalam kloroform p, dalam eter p dan
  dalam minyak lemak
Penyimpanan         : dalam wadah tertutup baik
Khasiat                  : zat tambahan

1.      AQUADEST ( FI.Edisi III Hal.96 )
Nama resmi           : AQUA DESTILLATA
Nama sinonim       : Air suling, Air murni
Rumus molekul     : H2O
Berat molekul        : 18.02
Pemerian               : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau;tidak
  mempunyai rasa
Penyimpanan        : Dalam wadah tertutup baik

v  PERHITUNGAN BAHAN
1        Balsem peru                : 4 gram
2.      PGA                            : 4 gram
Air untuk PGA           : 1,5 x 4 = 6 gram ∞ 6 mL
3.      Tannin                         : 3 gram
4.      Gliserin                        : 40 gram
5.      Aqua ad 60 gram ∞ 60 mL

v  CARA KERJA
1.      Siapkan alat dan bahan yang digunakan
2.      Setarakan timbangan
3.      Tara botol 60 gram
4.      Timbang balsam peru 4 gram pada cawan yang telah ditara
5.      Timbang PGA 4 gram di kertas perkamen
6.      Masukkan PGA kedalam lumpang, tambahkan 6 mL air hangat, aduk hingga homogen
7.      Ambil lumpang lain lalu berikan sedikit etanol untuk membakar lumpang, masukkan balsem peru pada lumpang yang masih panas, gerus hingga larut
8.      Tambahkan gliserin 40 gram, dan tannin 3 gram gerus hingga homogen
9.      Masukkan PGA dalam campuran balsem peru, gliserin, dan tannin, kemudian gerus hingga membentuk corpus emulsi
10.  Encerkan dengan air hangat, kemudian masukkan kedalam botol
11.  Tambahkan dengan aquadest hingga 60 gram lalu kocok hingga emulsi dingin
12.  Beri etiket biru
v  ETIKET BIRU
APOTEK BINA HUSADA
Jln. Sorumba No. 17 C Telp. 319130
Apoteker         : Rafiuddin
SIK                 : F.10.065
R/No : 11                                Tgl.31-03-2011
Nama                : Awal
Aturan pakai   : Dioleskan pada bagian  yang        
                           sakit
Obat Luar



               
 




                                                                                                             


LABORATORIUM FARMASETIKA 1
DIPLOMA III
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA
KENDARI


JURNAL FARMASETIKA I
RESEP 11




O L E H


NAMA            : RAFIUDDIN
NIM                : F.10.105
KELOMPOK : XIV
ASISTEN       : Nur Sa’adah Daud, S.Farm, Apt

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA
KENDARI
2011
v  RESEP NO.12
R/        paraffin cair                 45%
            Malam putih                7,5%
            Lanolin anhidrat          2%
            Cetyl alcohol               1%
            Petrolatum                   20%
            Tween 40                   
            Span 40           aa         2%
            α tokoferol                  0,03%
            metil paraben               0,18%
            propel paraben             0,02%
            propilenglikol              5%
            ol. rosae                       0,5%
aqua ad                        100%
























v  KELENGKAPAN RESEP
Dr. Indramayu
SIP. 456/IDI/2002
Jln. Merpati 28 Kendari

No. 012                                   01-06-2011
R/        paraffin cair                 45%
            Malam putih                7,5%
            Lanolin anhidrat          2%
            Cetyl alcohol               1%
            Petrolatum                   20%
            Tween 40                   
            Span 40           aa         2%
            α tokoferol                  0,03%
            metil paraben               0,18%
            propel paraben             0,02%
            propilenglikol              5%
            ol. rosae                       0,5%
aqua ad                        100%
Pro       : ida  (dewasa)
Alamat            : Jln. Rambutan No.4



   

Pro       : Tn. Wahyu
Umur   : Dewasa
Alamat : Jln. Rambutan No.24





















            Keterangan :
·         R/                    : Recipe                                   : Ambillah
·         Sue                  : signa usus externum              : tandai pemakaian luar
·         pro                   : propere                                  : untuk

v  URAIAN BAHAN
1.      PARAFIN CAIR (FI Edisi III Hal. 474 )
Nama resmi           : PARAFFINUM LIQUIDUM
Nama sinonim       : parafin cair
Pemerian               : cairan kental, transparan, tidak berfluoresensi, tidak
  berwarna, hampir tidak berbau, hampir tidak
  mempunyai rasa
Kelarutan              : praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%)p,
  larut dalam kloroform p dan dalam eter p
Penyimpanan         : dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
 Khasiat                 : laksativum ( obat untuk pencahar dalam tubuh )

2.      CERA ALBA (FI Edisi III Hal. 140 )
Nama resmi           : CERA ALBA
Nama sinonim       : malam putih
Pemerian               : zat padat, lapisan tipis bening, putih kekuningan, bau
  khas lemah
Kelarutan              : praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam 
  etanol (95%)p dingin, larut dalam kloroform p, dalam
  eter p hangat, dalam minyak lemak dan dalam minyak
  atsiri
Penyimpanan         : dalam wadah tertutup baik
 Khasiat                 : Zat tambahan

3.      LANOLIN ANHIDRAT (FI Edisi III Hal. 61 )
Nama resmi           : ADEPS LANAE
Nama sinonim       : lanolin, lemak bulu domba
Pemerian               : zat serupa lemak, liat, lekat, kuning muda atau kuning
  pucat, agak tembus cahaya, bau lemah, dan khas
Kelarutan              : praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam 
  etanol (95%)p,mudah  larut dalam kloroform p dan
  dalam eter p
Penyimpanan         : dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya,
  ditempat sejuk
 Khasiat                 : Zat tambahan

4.      CETYL ALKOHOL (FI Edisi IV Hal.72  )
Nama resmi           : ALCOHOLUM CETYLICUM
Nama sinonim       : setil alcohol
Rumus molekul     : C16H34O
Pemerian               : serpihan putih licin, granul atau kubus,putih, bau khas
  lemah, rasa lemah
Kelarutan              : tidak larut dalam air, larut dalam etanol (95%)p dan
  eter p. kelarutan bertambah dengan naiknya suhu
Penyimpanan         : dalam wadah tertutup rapat
 Khasiat                 : Zat tambahan

5.      VASELIN ALBUM (FI Edisi III Hal.633 )
Nama resmi           : VASELINUM ALBUM
Nama sinonim       : vaselin putih, petrolatum
Pemerian               : massa linak, lengket, bening, putih. Sifat ini tetap
  setelah zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin
  tanpa diaduk
Kelarutan              : praktis tidak larut dalam air dalam etanol (95%)p,
  larut dalam kloroform p, dalam eter p, dan dalam eter
  minyak tanah p. larutan kadang-kadang beropalesensi
  lemah
Penyimpanan         : dalam wadah tertutup baik
 Khasiat                 : Zat tambahan

6.      TWEEN 80 (Remingtons Hal.1355 )
Nama resmi           : POLYSORBATE 80
Nama sinonim       : tween 80
Pemerian               : sitrum batu amber, berwarna, cairan minyak lemak,
  karakter bau khas lemah dan panas kemudian diikuti
  rasa pahit, gaya berat antara 1,07 dan 1,09, viskositas
  345-445 cintistokes sampai suhu 250C, PH larutan
  antara 6 dan 8
Kelarutan              : sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol, larut
  dalam minyak biji kapas, minyak jagung, etil asetat p,
  metanol dan toluena, tidak larut dalam minyak mineral
Penyimpanan         : dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
 Khasiat                 : digunakan sebagai emulgator dalam preparat dari
  obat, kosmetik, dan produk lainnya

7.      SPAN 80 (Remingtons Hal.1356)
Nama resmi           : POLYETYLENE GLICOL 400 MONOSTEARAT
Nama sinonim       : span 80
Pemerian               : setengah transparan, putih, tidak berbau atau hampir
  tidak berbau, melebur pada suhu 300C - 340C
Kelarutan              : mudah larut dalam karbon tetraklorida, kloroform,
  eter dan petroleum benzin p, sukar larut dalam etanol,
  tidak larut dalam air
Penyimpanan         : dalam wadah tertutup baik
 Khasiat                 : emulgator yaitu emulsi agent yang membantu proses
  emulsifikasi

8.      TOKOFEROL (FI Edisi III Hal. 606)
Nama resmi           : TOCOPHEROLUM
Nama sinonim       : tokoferol, vitamin E
Pemerian               : tokoferil tidak berbau atau sedikit berbau, tidak berasa
  atau sedikit tidak berasa, α-tokoferol dan α-tokoferil
  asetat, cairan seperti minyak, kuning, jernih, d-α
  tokoferil asetat pada suhu dingin bentuk padat, α
 -tokoferil asam suksinat, serbuk putih, d-isomernya
  melebur pada suhu lebih kurang 750 dan di
 -resemisnya melebur pada suhu lebih kurang 700.
  Sediaannya cair seperti minyak, kuning hingga merah
  kecoklatan, jernih. Bentuk esternya stabil di udara dan
  cahaya, tetapi tidak stabil dalam alkali, bentuk asam
  suksinatnya tidak stabil, jika dilebur α-tokoferol tidak
  stabil diudara dan cahaya, terutama dalam suasana
  alkalis
kelarutan               : α-tokoferil asam suksinat praktis tidak larut dalam air,
  sukar larut dalam larutan alkali, larut dalam etanol
  (95%)p, dalam eter p, dalam aseton p, dan dalam
  minyak nabati, sangat mudah larut dalam kloroform p.
  bentuk lain tokoferol praktis tidak larut dalam air,
  larut dalam etanol (95%)p, dan dapat campur dengan
  eter p, dengan aseton p, dengan minyak nabati dan
 dengan klorofom p
penyimpanan         : dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya
khasiat                   : - antioksidan ( obat yang digunakan untuk menjaga
    kelembaban kulit )
  - vitamin E

9.      METIL PARABEN ( FI Edisi III Hal. 378 )
Nama resmi           : METHYLIS PARABENUM
Nama sinonim       : metil paraben, nipagin
Rumus molekul     : C8H8O3
Berat molekul        : 152, 15
Rumus bangun      :
 COOCH3
   




                                 OH
                                          Metil – p – hidroksibenzoat
Pemerian               : serbuk hablur halus, putih, hampir tidak berbau, tidak
  mempunyai rasa, kemudian agak membakar diikuti
  rasa tebal
kelarutan               : larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air
  mendidih, dalam 3,5 bagian etanol (95%)p, dan dalam
  3 bagian aseton p, mudah larut dalam eter p, dan
  dalam larutan alkali hidroksida, larut dalam 60 bagian
  gliserol p panas dan dalam 40 bagian minyak lamak
  nabati panas, jika didinginkan larutan tetap jarnih
penyimpanan         : dalam wadah tertutup baik
khasiat                   : zat tambahan, zat pengawet

10.  PROPIL PARABEN ( FI Edisi III Hal. 535 )
Nama resmi           : PROPYLIS PARABENUM
Nama sinonim       : propel paraben, nipasol
Rumus molekul     : C10H12O3
Berat molekul        : 180, 21
Rumus bangun      :
                              COOC3H7
   




                                 OH
                                          Propil  – p – hidroksibenzoat
Pemerian               : serbuk hablut putih, tidak berbau, tidak berasa