SADARI
Selasa, 22 Mei 2012
Selasa, 01 Mei 2012
PROFILE BINA HUSADA KENDARI
![]() |
| DIPLOMA III AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI |
![]() |
| DIPLOMA III AKADEMI KESEHATAN GIGI BINA HUSADA KENDAI |
![]() |
| DIPLOMA III AKADEMI ANALIS KESEHATAN BINA HUSADA KENDARI |
Kopwil IX Akademi Farmasi Bina Husada Kendari
Alamat:
Jalan Asrama Haji No 17
Kendari 93117
Sulawesi Tenggara, Indonesia
Akademi Bina Husada Kendari merupakan perguruan tinggi yang pertama di selawesi tenggara, yang menyelenggarakan program pendidikan D3 yaitu D3 Farmasi, Gigi dan Analis Kesehatan.
suspensi
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Dalam kehidupan masyarakat di era zaman
seperti ini pemberian ataupun penggunaan obat dalam bentuk sediaan suspensi
sangatlah di butuhkan. Hal ini disebabkan karena pasien pada umumnya terutama
anak-anak, orang tua, maupun lanjut usia mengalami kesulitan ataupun kesusahan
dalam hal meminum obat baik itu dalam bentuk tablet, pil, ataupun kapsul.
Penggunaan suspensi ini baik digunakan untuk
anak-anak sebab suspensi dapat menutupi rasa tidak enak atau rasa pahit
pada obat yang dapat diatasi dengan cara dilakukan penambahan pemanis pada
sediaan suspensi.
Suspensi merupakan sediaan cair yang
mengandung partikel padat yang tidak larut tetapi terdispersi dalam fase cair.
Sediaan dalam bentuk suspensi juga ditujukan untuk pemakaian oral dengan kata
lain pemberian yang dilakukan melalui mulut. Sediaan dalam bentuk suspensi
diterima baik oleh para konsumen dikarenakan penampilan baik itu dari segi
warna atupun bentuk wadahnya. Pada prinsipnya zat yang terdispersi pada
suspensi haruslah halus, tidak boleh cepat mengendap, dan bila digojog
perlahan-lahan, endapan harus segera terdispersi kembali. Selain larutan,
suspensi juga mengandung zat tambahan(bila perlu) yang digunakan untuk menjamin
stabilitas suspensi tetapi kekentalan suspensi harus menjamin sediaan mudah
digojog dan dituang.
Penggunaan dalam bentuk suspensi bila
dibandingkan dengan larutan sangatlah efisien sebab suspensi dapat mengurangi
penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air.
Kekurangan
suspensi sebagai bentuk sediaan adalah pada saat penyimpanan, memungkinkan
terjadinya perubahan system dispersi ( cacking, flokulasi, deflokulasi )
terutama jika terjadi fluktuasi atau perubahan temperatur.
Dengan demikian sangatlah penting bagi
kita sebagai tenaga farmasis untuk mengetahui dan mempelajari pembuatan sediaan
dalam bentuk suspensi yang sesuai dengan persyaratan suspensi yang ideal
ataupun stabil agar selanjutnya dapat diterapakn pada pelayanan kefarmasian
dalam kehidupan masyarakat.
B.
Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya praktikum
ini adalah yaitu agar kita selaku tenaga farmasis dapat mengetahui cara
pembuatan ataupun peracikan sediaan suspensi yang ideal dan stabil sehingga
pengemasan dan penandaan (pemberian etiket ) sesuai dengan persyaratan
farmaseutika.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Berdasarkan Farmakope Indonesia edisi
III, suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk
halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa.
Sedangkan pada Formularium Nasional
edisi II menjelaskan bahwa suspensi
adalah sediaan cair yang mengandung obat padat, tidak melarut dan
terdispersikan sempurna dalam cairan pembawa, atau sediaan padat terdiri dari
obat dalam bentuk serbuk halus, dengan atau tanpa zat tambahan yang akan
terdispersikan sempurna dalam cairan pembawa yang ditetapkan. Namun disisi
lain, pada Farmakope Indonesia edisi IV menjelaskan bahwa suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel
padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair.
Ciri-ciri
sediaan suspensi adalah :
·
Terbentuk dua fase yang heterogen
·
Berwarna keruh
·
Mempunyai diameter partikel > 100 nm
·
Dapat disaring dengan kertas saring
biasa
·
Akan memisah jika didiamkan
Macam-macam
suspensi
1. Berdasarkan
penggunaan
·
Suspensi oral, sediaan cair yang
mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan
pengaroma yang sesuai dan ditujukan untuk penggunaan oral.
·
Suspensi topikal, sediaan cair yang
mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan
untuk penggunaan pada kulit.
·
Suspensi tetes telinga, sediaan cair
mengandung partikel-partikel halus yang ditujukan untuk diteteskan pada telinga
bagian luar.
·
Suspensi opthalmatik, sediaan cair
steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa
untuk pemakaian pada mata.
2. Berdasarkan
istilah
·
Susu, untuk suspensi dalam pembawa yang
mengandung air yang ditujukan untuk pemakaian oral. Contohnya : susu magnesia.
·
Magma, suspensi zat padat anorganik
dalam air seperti lumpur, jika zat padatnya mempunyai kecenderungan terhidrasi
dan teragregasi kuat yang menghasilkan konsistensi seperti gel dan sifat
reologi tiksitronik. Contoh : magma bentonit.
·
Lotio, untuk golongan suspensi topikal
dan emulsi untuk pemakaian pada kulit.
3. Berdasarkan
sifat
·
Suspensi deflokulasi, dalam sistem
deflokulasi partikel deflokulasi mengendap perlahan dan akhirnya membentuk
sedimen, dimana terbentuk agregasi dan terbentuk cake yang keras serta sukar
tersuspensi kembali.
·
Suspensi flokulasi, dalam sistem
flokulasi partikel terflokulasi yaitu terikat lemah, cepat mengendap dan pada
penyimpanan tidak terjadi “ cake “ dan mudah tersuspensi kembali.
Keuntungan dari sediaan suspensi
yaitu :
·
Baik digunakan untuk pasien yang sukar
menerima tablet atau kapsul, terutama anak-anak.
·
Homogenitas tinggi.
·
Lebih mudah diabsorpsi daripada tablet
atau kapsul ( karena luas permukaan kontak antara zat aktif dan saluran cerna
meningkat ).
·
Dapat menutupi rasa tidak enak atau
pahit obat ( dari larut / tidaknya ).
·
Mengurangi penguraian zat aktif yang
tidak stabil dalam air.
Disamping
mempunyai kelebihan, sediaan suspensi juga mempunyai kekurangan yaitu :
·
Kestabilan rendah ( pertumbuhan kristal
jika penuh, degradasi, dll ).
·
Jika membentuk “ cacking “ akan sulit
terdispersi kembali sehingga menyebabkan homogenitasnya turun.
·
Alirannya menyebabkan sukar untuk
dituang,
·
Ketetapan dosis lebih rendah daripada
bentuk sediaan larutan.
·
Pada saat penyimpanan, memungkinkan
terjadinya perubahan sistem dispersi ( cacking, flokulasi, deflokulasi )
terutama jika terjadi fluktuasi / perubahan temparatur.
·
Sediaan suspensi harus dikocok terlebih
dahulu untuk memperoleh dosis yang diinginkan.
Syarat- syarat suspensi yaitu :
·
Suspensi tidak boleh diinjeksikan secara
I.V dan intratekal.
·
Suspensi yang dinyatakan untuk digunakan
dengan cara tertentu harus mengandung zat anti mikroba.
·
Suspensi harus dikocok sebelum
digunakan.
·
Suspensi harus disimpan dalam wadah
tertutup rapat.
Komposisi sediaan suspensi yaitu :
1. Zat
aktif
2.
Bahan tambahan :
a.
Bahan pensuspensi / suspending agent,
fungsinya adalah untuk memperlambat pengendapan, mencegah penurunan partikel,
dan mencegah penggumpalan resin, dan bahan berlemak. Conoh untuk golongan
polisakarida yaitu seperti gom akasia, tragakan, alginat starc.sedangkan pada
golongan selulosa larut air yaitu seperti metil selulosa, hidroksi
etilselulosa, avicel, dan na-cmc.untuk golongan tanah liat misalnya seperti
bentonit, aluminium magnesium silikat, hectocrite, veegum. Sementara itu untuk
golongan sintetik seperti carbomer, carboxypolymethylene, colloidal silicon
dioxide.
b.
Bahan pembasah ( wetting agent ) /
humektan, fungsinya adalah untuk menurunkan tegangan permukaan bahan dengan air
( sudut kontak ) dan meningkatkan dispersi bahan yang tidak larut. Misalnya
gliserin, propilenglikol, polietilenglikol, dll.
c.
Pemanis, fungsinya untuk memperbaiki
rasa dari sediaan. Misalnya sorbitol dan sukrosa.
d.
Pewarna dan pewangi, dimana zat tambahan
ini harus serasi. Misalnya vanili, buah-buahan berry, citrus, walnut, dll.
e.
Pengawet, sangat dianjurkan jika didalam
sediaan tersebut mengandung bahan alam, atau bila mengandung larutan gula encer
( karena merupakan tempat tumbuh mikroba ). Selain itu, pengawet diperlukan
juga bila sediaan dipergunakan untuk pemakaian berulang. Pengawet yang sering
ddigunakan adalah metil atau propel paraben, asam benzoat / na benzoat,
chlorbutanol, dan senyawa ammonium.
f.
Antioksidan, jarang digunakan pada
sediaan suspensi kecuali untuk zat aktif yang mudah terurai karena
teroksidasi.misalnya hidrokuinon, asam galat, kasein, sisteina hidroklorida,
dan juga timol.
g.
Pendapar, fungsinya untuk mengatur pH,
memperbesar potensial pengawet, meningkatkan kelarutan. Misalnya dapar sitrat,
dapar fosfat, dapar asetat, dan juga dapar karbonat.
h.
Acidifier, fungsinya untuk mengatur pH,
meningkatkan kestabilan suspensi, memperbesar potensial pengawet, dan
meningkatkan kelarutan. Misalnya asam sitrat.
i.
Flocculating agent, merupakan bahan yang
dapat menyebabkan suatu partikel berhubungan secara bersama membentuk suatu
agregat atau floc. Misalnya polisorbat 80 ( untuk surfaktan ), tragakan (
polimer hidrofilik ), bentonit ( untuk clay ), dan juga NaCl ( untuk elektrolit
).
Stabilitas dari suatu suspensi
yaitu :
·
Suspensi tidak boleh terlalu viskes
·
Untuk lotio ( eksternal ) harus mudah
menyebar pada daerah pemakaian.
·
Cepat kering membentuk lapisan film
pelindung.
Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi suspensi yaitu :
·
Ukuran dari partikel suspensi.
·
Kekentalan atau viskositas.
·
Tolak-menolak antarpartikel karena
adanya muatan listrik pada partikel.
·
Konsentrasi suspensoid.
Karakteristik dari suatu suspensi
yang ideal yaitu :
·
Pengendapan pada suspensi harus
perlahan-lahan terjadi.
·
Bila terjadi endapan dengan pengocokan
sedikit bahan partikel pada larutan suspensi dapat terdispersi kembali dengan
cepat.
·
Harus mudah penuangan obat dari
wadahnya.
·
Bebas dari partikel asing.
·
Harus bebas dari kontaminasi mikroba.
·
Jika mengandung partikel asing harus
disaring.
Adapun sifat-sifat yang diinginkan
dalam suatu suspensi farmasi yaitu :
·
Suatu suspensi farmasi yang dibuat
dengan tepat mengendap secara lambat dan harus rata lagi bila dikocok.
·
Karakteristik suspensi harus sedemikian
rupa sehingga ukuran partikel dari suspensoid tetap agak konstan untuk lama
pada penyimpanan.
·
Suspensi harus bisa dituang dari wadah
dengan cepat dan homogen.
Dalam
pembuatan suspensi, pembasahan partikel dari serbuk yang tak larut di dalam
cairan pembawa adalah langkah yang penting. Kadang-kadang adalah sukar
mendispersi serbuk, karena adanya udara, lemak, dan lain-lain kontaminan.
Serbuk tadi tidak dapat segera dibasahi, walaupun BJ-nya besar mereka
mengambang pada permukaan cairan. Pada serbuk yang halus mudah kemasukan udara
dan sukar dibasahi meskipun ditekan dibawah permukaan dari suspensi medium.
Mudah dan sukar terbasahinya serbuk dapat dilihat dari sudut kontak yang
dibentuk serbuk dengan permukaan cairan. Serbuk yang sulit dibasahi oleh air,
disebut hidrofob, seperti sulfur, carbo adsorben, magnesia stearas dan serbuk
yang mudah dibasahi oleh air disebut hidrofil seperti toluen, zinci oxidi,
magnesia carbonas.
Dalam
pembuatan suspensi penggunaan surfaktan ( wetting agent ) adalah sangat berguna
dalam penurunan tegangan antar muka antara partikel padat dan cairan pembawa.
Sebagai akibat turunnya tegangan antar muka akan menurunkan sudut kontak, dan
pembasahan akan dipermudah.
Gliserin
dapat berguna dalam penggerusan zat yang tidak larut karena akan memindahkan
udara diantara partikel-partikel hingga bila ditambahkan air dapat menembus dan
membasahi partikel karena lapisan gliserin pada permukaan partikel mudah campur
dengan air. Maka itu pendispersian partikel dilakukan dengan menggerus dulu
partikel dengan gliserin, propilenglikol, koloid gom baru diencerkan dengan
air, hal ini sudah terkenal dalam praktek farmasi.
Pada pembuatan suspensi, untuk mencegah pertumbuhan
cendawan, ragi dan jasadrenik lainnya, dapat ditambahkan zat pengawet yang
cocok, terutama untuk suspensi yang akan diwadahkan dalam wadah satuan ganda
atau wadah dosis ganda.
Membuat
suspensi stabil secara fisis ada 2 kategori yaitu :
·
Pada penggunaan “ structured vehicle “
untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi structured vehicle, adalah
larutan hidrokoloid seperti tilose, gom, bentonit, dll.
·
Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi
untuk membentuk flok, meskipun terjadi cepat pengendapan, tetapi dengan pengocokan
ringan mudah disuspensikan kembali.
Pembuatan
suspensi dapat dibuat dengan 2 cara yaitu :
·
Metode dispersi
·
Metode presipitasi, ada 3 macam :
ü Presipitasi
dengan pelarut organik
ü Presipitasi
dengan penambahan pH dari media.
ü Presipitasi
dengan dekomposisi rangkap.
v RESEP
NO.9
Dr. Alphian .SIP 859458/SIP/2001
Jln. Mekar 18 Kendari
R/ Chloramphenicol
palmitat 2,875
CMC
Na 0,5
Polysorbat
80 0,25
Propilenglikol
10
Sir.
Simplex 15
Aqua
ad 50
Pro : Putri
|
KELENGKAPAN
RESEP
Dr. Alphian
SIP. 859458/SIP/2001
Jln. Mekar 18 Kendari
Telp. 58474565
|
No. 009 04-05-2011
R/ Chloramphenicol
palmitat 2,875
CMC
Na 0,5
Polysorbat
80 0,25
Propilenglikol
10
Sir.
Simplex 15
Aqua
ad 50
m.f.d.
s3 dd c1
Pro :
Putri
Umur : Dewasa
Alamat : Jln. Rambutan No.4
|
Keterangan
:
·
R/ :
Recipe : Ambillah
·
m.f.d.s :
misce fac da signa : campur buat dan
tandai
·
3 dd :
ter de die : 3 x sehari
·
c 1 :
cochlear unum : 1 sendok
·
pro :
propere : untuk
v PERMASALAHAN
Suspensi
dengan cara pengendapan kembali
v PENYELESAIAN
PERMASALAHAN
Memperkecil
diameter partikel bahan aktif dalam suspense
v URAIAN
BAHAN
1. CHLORAMPHENICOL
PALMITAT ( FI Edisi III Hal. 145 )
Nama resmi : CHLORAMPHENICOLI PALMITAS
Nama sinonim : kloramfenikol palmitat
Rumus molekul : C27H42Cl2N2O6
Berat molekul : 561,56
Pemerian : serbuk hablur halus, licin, putih, bau lemah,rasa
tawar
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, larut dalam 45 bagian
etanol (95%)p, dalam 6 bagian kloroform p,
dan
dalam 14 bagian eter p
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
Khasiat : antibiotikum ( obat yang dihasilkan mikroorganisme
yang dapat menghambat pertumbuhan atau dapat
membunuh mikroorganisme lain )
2. CMC
Na ( FI Edisi III Hal. 401 )
Nama resmi : NATRII CARBOXYMETHYLCELLULOSUM
Nama sinonim : natrium karboksimetil selulosa
Pemerian : serbuk atau butiran, putih atau putih kuning gading,
tidak berbau atau hampir tidak berbau,
higroskopik
Kelarutan : mudah mendispersi dalam air, membentuk suspensi
koloidal, tidak larut dalam etanol (95%)p,
dalam eter p
dan dalam pelarut organic lain
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
Khasiat : zat tambahan
3. POLYSORBAT
80 (FI Edisi III Hal. 509 )
Nama resmi : POLYSORBATUM 80
Nama sinonim : polisorbat 80
Pemerian : cairan kental seperti minyak, jernih, kuning, bau
asam
lemak, khas
Kelarutan :
mudah larut dalam air, dalam etanol (95%)p, dalam
etil asetat p, dan dalam methanol p,sukar
larut dalam
parafin cair p dan dalam minyak biji kapas p
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
Khasiat : zat tambahan
4. PROPILENGLIKOL
( FI. Edisi III Hal. 534 )
Nama resmi : PROPYLENGLYCOLUM
Nama
sinonim : propilenglikol
Rumus
molekul : C3H8O2
Berat
molekul : 76,10
Pemerian
: Cairan kental, jernih,
tidak berwarna, tidak berbau,
rasa agak manis, higroskopik
Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%)p, dan
dengan
kloroform p, larut dalam 6 bagian eter p, tidak
dapat campur
dengan eter minyak tanah p, dan dengan
minyak lemak
Penyimpanan :
Dalam wadah tertutup baik
Khasiat :
Zat tambahan, pelarut
5. SIR.
SIMPLEX (FI. Edisi III Hal. 567 )
Senin, 28 November 2011
EMULSI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Farmasi adalah ilmu yang mempelajari
cara membuat, mencampur, meracik formulasi obat, identifikasi, kombinasi,
analisis dan standarisasi / pemnakuan obat serta pengobatan, termasuk pula
sifat-sifat obat dan distribusinya serta penggunaannya yang aman. Profesi
farmasi merupakan profesi yang berhubungan dengan seni dan ilmu penyediaan atau
pengolahan bahan sumber alam dan bahan sintesis yang cocok dan menyenangkan
untuk didistribusikan dan digunakan dalam pengobatan dan pencegahan suatu
penyakit.
Dengan adanya manusia di dunia ini
mulailah muncul peradaban dan mulai terjadi penyebaran penyakit yang
dilanjutkan dengan usaha masyarakat untuk melakukan pencegahan terhadap
penyakit. Pada perkembangan selanjutnya masyarakat melakukan pencegahan atupun
penyembuhan suatu penyakit dengan menggunakan ataupun mengkonsumsi obat yang
diantaranya yaitu obar dalam bentuk sediaan emusi.
Emulsi berasal dari kata “emulgeo”
yang artinya menyerupai susu, dan warna emusi memang putih seperti susu. Pada abad
XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian yang mengandung lemak, protein, dan
air. Hingga akhirnya pada pertengahan abad XVIII , seorang ahli farmasi dari
perancis memperkenalkan pembuatan emulsi dari oleum olivarum, oleum anisi dan
eugenol oil dengan menggunakan penambahan gom arab, tragakan, dan kuning telur
sebagai emulgator. Pada dasarnya sudah menjadi ketentuan umum bahwa yang
disebut sebagai “emulsi” menunjukan pada sediaan cair yang dimaksudkan untuk
penggunaan oral. Emulsi untuk penggunaan eksternal biasanya langsung disebut
sebagai cream (sediaan semisolid), lotion atau liniment ( sediaan liquid),
hingga akhirnya sediaan emulsi ataupun lotio banyak digunakan oleh kalangan
masyarakat dalam penyembuhan suatu penyakit.
Peracikan obat berupa emulsi ataupun
lotio ini yang memenuhi persyaratan farmasetik penting diketahui untuk dapat
diterapkan pada pelayanan kefarmasian di lingkungan masyarakat.
B.
Tujuan
Tujuan kita melakukan praktikum ini
adalah agar kita dapat mengetahui cara pembuatan sediaan emulsi atau lotio yang
memenuhi kriteria serta kita dapat pula menambah pengetahuan dan pengalaman
dalam melakukan praktikum.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Farmakope Indonesia edisi IV,
emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam
cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil.
Menurut buku
Ilmu Meracik Obat, emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau
larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat
pengemulsi atau surfaktan yang cocok. Sedangkan menurut buku Formularium
Nasional, emulsi adalah sediaan berupa campuran terdiri dari dua fase cairan
dalam sistem dispersi; fase cairan yang satu terdispersi sangat halus dan
merata dalam fase cairan lainnya, umumnya dimantapkan oleh zat pengemulsi.
Berdasarkan
fase terdispersinya emulsi terbagi atas 2, yaitu :
1.
Emulsi tipe M/A, adalah emulsi yang
terdiri atas butiran minyak yang tersebar atau terdispersi ke dalam air. Minyak
sebagai fase internal dan air sebagai fase eksternal.
2.
Emulsi tipe A/M, adalah emulsi yang
terdiri atas butiran air yang tersebar atau terdispersi ke dalam minyak. Air
sebagai fase internal dan minyak sebagai fase eksternal.
Emulsi dapat
distabilkan dengan penambahan bahan pengemulsi yang disebut emulgator (
emulsifying agent ) atau surfaktan yang dapat mencegah koalesensi, yaitu
penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besar dan akhirnya menjadi satu fase
tunggal yang memisah. Surfaktan menstabilkan emulsi dengan cara menempati
antar- permukaan tetesan dengan fase eksternal, dan dengan membuat batas fisik
disekeliling partikel yang akan berkoalesensi.surfaktan juga mengurangi
tegangan permukaan antar fase sehingga meningkatkan proses emulsifikasi selama
pencampuram.
Komponen Emulsi
Komponen emulsi dapat digolongkan
menjadi dua macam,yaitu :
1. Komponen
dasar, yaitu bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi ,
terdiri atas
·
Fase dispers/fase internal/ fase diskontinu/
fase terdispersi/ fase dalam , yaitu zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran
kecil di dalam zat cair lain.
·
Fase eksternal/ fase kontinu/ fase
pendispersi/ fase luar , yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai
bahan dasar atau bahan pendukung emulsi tersebut.
·
Emulgator , yaitu bagian dari emulsi
yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi.
2. Komponen
tambahan, dalah bahan tambahan yang sering ditambahan ke dalam emulsi untuk
memperoleh hasil yang lebih baik.
Emulsi dikatakan stabil jika :
·
Tidak ada perubahan yang berarti dalam
ukuran partikel atau distribusi partikel dari globul fase dalam selama life
time produk.
·
Distribusi globul yang teremulsi adalah
honogen.
·
Mudah mengalir atau tersebar tetapi
memiliki viskositas yang tinggi untuk meningkatkan stabilitas fisiknya.
1. Flokulasi
dan creaming
Flokulasi adalah suatu peristiwa
terbentuknya kelompok-kelompok globul yang posisinya tidak beraturan.
Creaming adalah suatu peristiwa
terjadinya lapisan-lapisan dengan konsentrasi yang berbeda-beda di dalam
emulsi.
2. Koalesen
dan breaking
Koalesen merupakan proses
bergabungnya droplet yang akan diikuti dengan breaking yaitu pemisahan fase
terdispersi dari fase kontinu. Proses irrevesibel karena lapisan emulgator yang
mengelilingi cairan sudah tidak ada.
3. Inversi
fase
Infersi fase adalah proses
perubahan dimana fase terdispersi berubah fungsi menjadi medium pendispersi dan
sebaliknya.
Faktor- faktor yang mempengaruhi
stabilitas emulsi :
·
Ukuran partikel
·
Perbedaan bobot jenis kedua fase
·
Viskositas fase kontinu
·
Muatan partikel
·
Sifat efektifitas dan jumlah emulgator
yang digunakan
·
Kondisi penyimpanan : suhu, ada/
tidaknya agitasi dvibrasi
·
Penguapan atau pengenceran selama
penyimpanan
·
Adanya kontaminasi dan pertumbuhan
mikroorganisme
Keuntungan dan kerugian Emulsi
Keuntungan sediaan Emulsi :
·
Menutupi rasa minyak yang tidak enak
·
Lebih mudah dicerna dan diabsorpsi
karena ukuran minyak diperkecil
·
Memperbaiki penampilan sediaan karena
merupakan campuran yang homogen secara visual
·
Meningkatkan stabilitas obat yang lebih
mudah terhidrolisa dalam air.
Kerugian sediaan Emulsi :
· Sediaan
emulsi kurang praktis daripada sediaan tablet
· Sediaan
emulsi mempunyai stabilitas yang rendah daripada sediaan tablet karena cairan
merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri
· Takaran
dosisnya kurang teliti.
Emulgator
Untuk
mencegah penggabungan kembali globul-globul diperlukan suatu zat yang dapat
membentuk lapisan film diantara globul-globul tersebut sehingga proses
penggabungan menjadi terhalang, zat tersebut adalah zat pengemulsi (emulgator ).
Emulgator dapat dibedakan berdasarkan :
1.Berdasarkan
mekanismenya
a.
Golongan surfaktan, memiliki mekanisme
kerja menurunkan tegangan permukaan / antar permukaan minyak-air serta
membentuk lapisan film monomolekuler ada permukaan globul fase terdispersi.
Jenis-jenis surfaktan :
ü Berdasarkan
jenis surfaktan
ü Surfaktan
anionic, contoh : na- lauril sulfat, na-oleat sulfat, na-stearat.
ü Surfaktan
kationik, contoh : zehiran klorida, setil trimetil ammonium bromide.
ü Surfaktan
non ionic, contoh : tween 80, span 80.
ü Berdasarkan
HLB ( hidrophyl lipophyl – balance )
b.
Golongan koloid hidrofil, membentuk
lapisan film multimolekuler di sekeliling globul yang terdispersi. Contoh :
akasia, tragakan, CMC, tylosa.
c.
Golongan Zat Terbagi Halus, membentuk
lapisan film mono dan multimolekuler, oleh adanya partikel halus yang
teradsorpsi pada antar permukaan kedua fase. Contoh: bentonit, veegum.
1.Berdasarkan sumber
a.
Bahan alam, contoh : gom arab, tragakan,
agar, male extract.
b.
Polisakarida semisintetik, contoh :
metyl selulosa, na- carboxymethylselulosa
CMC)
c.
Emulgator sintetik : surfaktan, sabun,
dan alkali, alcohol ( cetyl alcohol, gliserin ), carbowaxes ( PGA ), lesitin (
fosfolipid ).
Cara
Pembuatan Emulsi
Dikenal
tiga metode dalam pembuatan emulsi, secara singkat dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1.Metode Gom Kering atau Metode
kontinental
Dalam
metode ini, zat pengemulsi ( biasanya gom arab ) dicampur dengan minyak
terlebih dahulu kemudian ditambahkan air untuk membentuk korpus emulsi, baru
diencerkan dengan sisa air yang tersdia.
2.Metode
Gom Basah atau Metode Inggris
Zat pengemulsi
ditambahkan ke dalam air ( zat pengemulsi umumya larut dalam air ) agar
membentuk suatu musilago, kemudian perlahan-lahan minyak dicampurkan untuk
membentuk emulsi, kemudian diencerkan dengan sisa air.
3.Metode Botol atau Metode Botol Forbes
Digunakan untuk
minyak menguap dan zat-zat yang bersifat minyak dan mempunyai viskositas rendah
( kurang kental ). Serbuk gom dimasukkan ke dalam botol kering, ditambahkan dua
bagian air, botol ditutup, kemudian campuran tersebut dikocok dengan kuat.
Tambahkan sisa air sedikit demi sedikit sambil dikocok.
Cara
membedakan tipe emulsi
Dikenal
beberapa cara membedakan tipe emulsi, yaitu :
·
Dengan pengenceran fase
·
Dengan pengecatan atau pewarnaan
·
Dengan kertas saring atau kertas tisu
·
Dengan konduktivitas listrik
LABORATORIUM
FARMASETIKA 1
DIPLOMA
III
AKADEMI
FARMASI BINA HUSADA
KENDARI
JURNAL FARMASETIKA I
RESEP 11
O L E H
NAMA : RAFIUDDIN
NIM : F.10.105
KELOMPOK : XIV
ASISTEN : Nur Sa’adah Daud, S.Farm, Apt
AKADEMI
FARMASI BINA HUSADA
KENDARI
2011
v RESEP
NO.11
R/ Balsem
peru 4
PGA
qs
Tannin
3
Gliserin
40
Aqua
ad 60
m.f.emuls
|
v KELENGKAPAN
RESEP
Dr. Indramayu
SIP. 456/IDI/2002
Jln. Merpati 28 Kendari
Telp. 2345210
|
No. 011 25-05-2011
R/ Balsem
peru 4
PGA
qs
Tannin
3
Gliserin
40
Aqua
ad 60
m.f.emuls
Pro :
Awal
Umur : Dewasa
Alamat : Jln. Rambutan No.4
Pro :
Tn. Wahyu
Umur : Dewasa
Alamat : Jln. Rambutan No.24
|
Keterangan :
·
R/ :
Recipe : Ambillah
·
M.f.emuls : misce fac emulsi :
campur dan buat emulsi
·
pro :
propere : untuk
v PERMASALAHAN
-
Meracik balsam peru
-
Menghitung jumlah PGA yang digunakan
v PENYELESAIAN
PERMASALAHAN
-
Dalam meracik balsam peru, lumpang yang
digunakan harus dipanaskan terlebih dahulu dengan cara pemberian sedikit etanol
dalam lumpang lalu dibakar
-
Dalam menghitung jumlah PGA yang
digunakan, PGA sama banyak dengan jumlah minyak lemak yang digunakan
v URAIAN
BAHAN
1. BALSEM
PERU (FI. Edisi III Hal. 102 )
Nama resmi : BALSAMUM PERUVIANUM
Nama sinonim : balsam peru
Pemerian : cairan kental, lengket, tidak
berserat, coklat tua, dalam
lapisan tipis berwarna coklat, transparan kemerahan,
bau aromatic khas menyerupai vanilin
Kelarutan : larut dalam kloroform p, sukar
larut dalam eter p,
dalam eter minyak tanah p, dan dalam asam
asetat
glacial p
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Khasiat : antiseptikum ekstern ( obat
yang digunakan untuk
mencegah luka luar agar tidak membusuk )
2. PULVIS
GUMMI ACACIAE (FI. Edisi IV Hal. 718 )
Nama resmi : PULVIS GUMMI ACACIAE
Nama sinonim : serbuk Gom Arab, serbuk Gom Akasia
Pemerian : serbuk, putih atau putih
kekuningan, tidak berbau
Kelarutan : larut hampir sempurna dalam air,
tetapi sangat lambat,
meninggalkan sisa bagian tanaman dalam jumlah
sangat sedikit, dan memberikan cairan seperti
musilago, tidak berwarna atau kekuningan,
kental,
lengket, transparan, bersifat asam lemah
terhadap
kertas lakmus biru, praktis tidak larut dalam
etanol
dan dalam eter
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
3. TANIN
(FI. Edisi V Hal. 594 )
Nama resmi : TANNINUM
Nama sinonim : Tannine
Pemerian : sisik yang mengkilap, ringan
atau serbuk kuning
kelabu, ringan, hampir tak berbau dan rasanya
sangat
kelat
Kelarutan : mudah larut dalam air, dalam
spiritus, dan dalam
gliserol
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, terlindung
dari cahaya
Khasiat : zat tambahan
4. GLISERIN
( FI Edisi III Hal. 271 )
Nama resmi : GLYCEROLUM
Nama sinonim : gliserol, gliserin
Pemerian : cairan seperti sirop, jernih,
tidak berwarna, tidak
berbau, manis diikuti rasa hangat,
higroskopik. Jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat
memadat membentuk massa hablur tidak berwarna
yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih
kurang 200
Kelarutan : dapat campur dengan air, dan
dengan etanol (95%)p,
praktis tidak larut dalam kloroform p, dalam
eter p dan
dalam minyak lemak
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Khasiat : zat tambahan
1. AQUADEST
( FI.Edisi III Hal.96 )
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama sinonim : Air suling, Air murni
Rumus molekul : H2O
Berat molekul : 18.02
Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna;
tidak berbau;tidak
mempunyai rasa
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
v PERHITUNGAN
BAHAN
1
Balsem peru : 4 gram
2. PGA
: 4 gram
Air
untuk PGA : 1,5 x 4 = 6 gram ∞ 6
mL
3. Tannin
: 3 gram
4. Gliserin
: 40 gram
5. Aqua
ad 60 gram ∞ 60 mL
v CARA
KERJA
1. Siapkan
alat dan bahan yang digunakan
2. Setarakan
timbangan
3. Tara
botol 60 gram
4. Timbang
balsam peru 4 gram pada cawan yang telah ditara
5. Timbang
PGA 4 gram di kertas perkamen
6. Masukkan
PGA kedalam lumpang, tambahkan 6 mL air hangat, aduk hingga homogen
7. Ambil
lumpang lain lalu berikan sedikit etanol untuk membakar lumpang, masukkan
balsem peru pada lumpang yang masih panas, gerus hingga larut
8. Tambahkan
gliserin 40 gram, dan tannin 3 gram gerus hingga homogen
9. Masukkan
PGA dalam campuran balsem peru, gliserin, dan tannin, kemudian gerus hingga
membentuk corpus emulsi
10. Encerkan
dengan air hangat, kemudian masukkan kedalam botol
11. Tambahkan
dengan aquadest hingga 60 gram lalu kocok hingga emulsi dingin
12. Beri
etiket biru
v ETIKET
BIRU
APOTEK BINA HUSADA
Jln. Sorumba No. 17
C Telp. 319130
Apoteker : Rafiuddin
SIK :
F.10.065
R/No : 11 Tgl.31-03-2011
Nama : Awal
Aturan pakai : Dioleskan pada bagian
yang
sakit
Obat Luar
|
LABORATORIUM
FARMASETIKA 1
DIPLOMA
III
AKADEMI
FARMASI BINA HUSADA
KENDARI
JURNAL FARMASETIKA I
RESEP 11
O L E H
NAMA : RAFIUDDIN
NIM : F.10.105
KELOMPOK : XIV
ASISTEN : Nur Sa’adah Daud, S.Farm, Apt
AKADEMI
FARMASI BINA HUSADA
KENDARI
2011
v RESEP
NO.12
R/ paraffin
cair 45%
Malam
putih 7,5%
Lanolin
anhidrat 2%
Cetyl
alcohol 1%
Petrolatum
20%
Tween
40
Span
40 aa 2%
α
tokoferol 0,03%
metil
paraben 0,18%
propel
paraben 0,02%
propilenglikol
5%
ol.
rosae 0,5%
aqua ad 100%
|
v KELENGKAPAN
RESEP
Dr. Indramayu
SIP. 456/IDI/2002
Jln. Merpati 28 Kendari
|
No. 012 01-06-2011
R/ paraffin
cair 45%
Malam
putih 7,5%
Lanolin
anhidrat 2%
Cetyl
alcohol 1%
Petrolatum
20%
Tween
40
Span
40 aa 2%
α
tokoferol 0,03%
metil
paraben 0,18%
propel
paraben 0,02%
propilenglikol
5%
ol.
rosae 0,5%
aqua ad 100%
Pro :
ida (dewasa)
Alamat : Jln. Rambutan No.4
Pro :
Tn. Wahyu
Umur : Dewasa
Alamat : Jln. Rambutan No.24
|
Keterangan :
·
R/ :
Recipe : Ambillah
·
Sue :
signa usus externum : tandai
pemakaian luar
·
pro :
propere : untuk
v URAIAN
BAHAN
1. PARAFIN
CAIR (FI Edisi III Hal. 474 )
Nama resmi : PARAFFINUM LIQUIDUM
Nama sinonim : parafin cair
Pemerian : cairan kental, transparan, tidak
berfluoresensi, tidak
berwarna, hampir tidak berbau, hampir tidak
mempunyai rasa
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dan
dalam etanol (95%)p,
larut dalam kloroform p dan dalam eter p
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, terlindung
dari cahaya
Khasiat :
laksativum ( obat untuk pencahar dalam tubuh )
2. CERA
ALBA (FI Edisi III Hal. 140 )
Nama resmi : CERA ALBA
Nama sinonim : malam putih
Pemerian : zat padat, lapisan tipis bening,
putih kekuningan, bau
khas lemah
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air,
agak sukar larut dalam
etanol (95%)p dingin, larut dalam kloroform
p, dalam
eter p hangat, dalam minyak lemak dan dalam minyak
atsiri
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Khasiat : Zat tambahan
3. LANOLIN
ANHIDRAT (FI Edisi III Hal. 61 )
Nama resmi : ADEPS LANAE
Nama sinonim : lanolin, lemak bulu domba
Pemerian : zat serupa lemak, liat, lekat, kuning muda atau
kuning
pucat, agak tembus cahaya, bau lemah, dan
khas
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut
dalam
etanol (95%)p,mudah larut dalam kloroform p dan
dalam eter
p
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya,
ditempat sejuk
Khasiat : Zat tambahan
4. CETYL
ALKOHOL (FI Edisi IV Hal.72 )
Nama resmi : ALCOHOLUM CETYLICUM
Nama sinonim : setil alcohol
Rumus molekul : C16H34O
Pemerian : serpihan putih licin, granul atau kubus,putih, bau
khas
lemah, rasa lemah
Kelarutan : tidak larut dalam air, larut dalam etanol (95%)p dan
eter p.
kelarutan bertambah dengan naiknya suhu
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
Khasiat : Zat tambahan
5. VASELIN
ALBUM (FI Edisi III Hal.633 )
Nama resmi : VASELINUM ALBUM
Nama sinonim : vaselin putih, petrolatum
Pemerian : massa linak, lengket, bening, putih. Sifat ini tetap
setelah zat dileburkan dan dibiarkan hingga
dingin
tanpa diaduk
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air
dalam etanol (95%)p,
larut
dalam kloroform p, dalam eter p, dan dalam eter
minyak
tanah p. larutan kadang-kadang beropalesensi
lemah
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Khasiat : Zat tambahan
6. TWEEN
80 (Remingtons Hal.1355 )
Nama resmi : POLYSORBATE 80
Nama sinonim : tween 80
Pemerian : sitrum batu amber, berwarna,
cairan minyak lemak,
karakter bau khas lemah dan panas kemudian
diikuti
rasa pahit, gaya berat antara 1,07 dan 1,09,
viskositas
345-445 cintistokes sampai suhu 250C,
PH larutan
antara 6 dan 8
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air dan
dalam etanol, larut
dalam minyak biji kapas, minyak jagung, etil
asetat p,
metanol dan toluena, tidak larut dalam minyak
mineral
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, terlindung
dari cahaya
Khasiat :
digunakan sebagai emulgator dalam preparat dari
obat, kosmetik, dan produk lainnya
7. SPAN
80 (Remingtons Hal.1356)
Nama resmi : POLYETYLENE GLICOL 400 MONOSTEARAT
Nama sinonim : span 80
Pemerian : setengah transparan, putih,
tidak berbau atau hampir
tidak berbau, melebur pada suhu 300C
- 340C
Kelarutan : mudah larut dalam karbon
tetraklorida, kloroform,
eter dan petroleum benzin p, sukar larut
dalam etanol,
tidak larut dalam air
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Khasiat :
emulgator yaitu emulsi agent yang membantu proses
emulsifikasi
8. TOKOFEROL
(FI Edisi III Hal. 606)
Nama resmi : TOCOPHEROLUM
Nama sinonim : tokoferol, vitamin E
Pemerian : tokoferil tidak berbau atau
sedikit berbau, tidak berasa
atau sedikit tidak berasa, α-tokoferol dan
α-tokoferil
asetat, cairan seperti minyak, kuning,
jernih, d-α
tokoferil asetat pada suhu dingin bentuk
padat, α
-tokoferil asam suksinat, serbuk putih,
d-isomernya
melebur pada suhu lebih kurang 750
dan di
-resemisnya melebur pada suhu lebih kurang 700.
Sediaannya cair seperti minyak, kuning hingga
merah
kecoklatan, jernih. Bentuk esternya stabil di
udara dan
cahaya, tetapi tidak stabil dalam alkali,
bentuk asam
suksinatnya tidak stabil, jika dilebur
α-tokoferol tidak
stabil diudara dan cahaya, terutama dalam
suasana
alkalis
kelarutan : α-tokoferil asam suksinat
praktis tidak larut dalam air,
sukar larut dalam larutan alkali, larut dalam
etanol
(95%)p, dalam eter p, dalam aseton p, dan
dalam
minyak nabati, sangat mudah larut dalam
kloroform p.
bentuk lain tokoferol praktis tidak larut
dalam air,
larut dalam etanol (95%)p, dan dapat campur
dengan
eter p, dengan aseton p, dengan minyak nabati
dan
dengan klorofom p
penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, terlindung
dari cahaya
khasiat : - antioksidan ( obat yang
digunakan untuk menjaga
kelembaban kulit )
- vitamin E
9. METIL
PARABEN ( FI Edisi III Hal. 378 )
Nama resmi : METHYLIS PARABENUM
Nama sinonim : metil paraben, nipagin
Rumus molekul : C8H8O3
Berat molekul : 152, 15
Rumus bangun :
COOCH3
OH
Metil – p – hidroksibenzoat
Pemerian : serbuk hablur halus, putih,
hampir tidak berbau, tidak
mempunyai rasa, kemudian agak membakar
diikuti
rasa tebal
kelarutan : larut dalam 500 bagian air,
dalam 20 bagian air
mendidih, dalam 3,5 bagian etanol (95%)p, dan
dalam
3 bagian aseton p, mudah larut dalam eter p,
dan
dalam larutan alkali hidroksida, larut dalam
60 bagian
gliserol p panas dan dalam 40 bagian minyak
lamak
nabati panas, jika didinginkan larutan tetap
jarnih
penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
khasiat : zat tambahan, zat pengawet
10. PROPIL
PARABEN ( FI Edisi III Hal. 535 )
Nama resmi : PROPYLIS PARABENUM
Nama sinonim : propel paraben, nipasol
Rumus molekul : C10H12O3
Berat molekul : 180, 21
Rumus bangun :
COOC3H7
OH
Propil – p – hidroksibenzoat
Pemerian : serbuk hablut putih, tidak
berbau, tidak berasa
Langganan:
Komentar (Atom)


