Selasa, 01 Mei 2012

PROFILE BINA HUSADA KENDARI

DIPLOMA III AKADEMI FARMASI
 BINA HUSADA KENDARI

DIPLOMA III AKADEMI KESEHATAN GIGI
BINA HUSADA KENDAI


DIPLOMA III AKADEMI ANALIS KESEHATAN BINA HUSADA KENDARI





Kopwil IX Akademi Farmasi Bina Husada Kendari

Alamat:
Jalan Asrama Haji No 17

Kendari 93117

Sulawesi Tenggara, Indonesia

Akademi Bina Husada Kendari merupakan perguruan tinggi yang pertama di selawesi tenggara, yang menyelenggarakan program pendidikan D3 yaitu D3 Farmasi, Gigi dan Analis Kesehatan.

suspensi


BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang


        Dalam kehidupan masyarakat di era zaman seperti ini pemberian ataupun penggunaan obat dalam bentuk sediaan suspensi sangatlah di butuhkan. Hal ini disebabkan karena pasien pada umumnya terutama anak-anak, orang tua, maupun lanjut usia mengalami kesulitan ataupun kesusahan dalam hal meminum obat baik itu dalam bentuk tablet, pil, ataupun kapsul. Penggunaan suspensi ini baik digunakan untuk  anak-anak sebab suspensi dapat menutupi rasa tidak enak atau rasa pahit pada obat yang dapat diatasi dengan cara dilakukan penambahan pemanis pada sediaan suspensi.

        Suspensi merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat yang tidak larut tetapi terdispersi dalam fase cair. Sediaan dalam bentuk suspensi juga ditujukan untuk pemakaian oral dengan kata lain pemberian yang dilakukan melalui mulut. Sediaan dalam bentuk suspensi diterima baik oleh para konsumen dikarenakan penampilan baik itu dari segi warna atupun bentuk wadahnya. Pada prinsipnya zat yang terdispersi pada suspensi haruslah halus, tidak boleh cepat mengendap, dan bila digojog perlahan-lahan, endapan harus segera terdispersi kembali. Selain larutan, suspensi juga mengandung zat tambahan(bila perlu) yang digunakan untuk menjamin stabilitas suspensi tetapi kekentalan suspensi harus menjamin sediaan mudah digojog dan dituang.

         Penggunaan dalam bentuk suspensi bila dibandingkan dengan larutan sangatlah efisien sebab suspensi dapat mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air.                                      
        Kekurangan suspensi sebagai bentuk sediaan adalah pada saat penyimpanan, memungkinkan terjadinya perubahan system dispersi ( cacking, flokulasi, deflokulasi ) terutama jika terjadi fluktuasi atau perubahan temperatur.


        Dengan demikian sangatlah penting bagi kita sebagai tenaga farmasis untuk mengetahui dan mempelajari pembuatan sediaan dalam bentuk suspensi yang sesuai dengan persyaratan suspensi yang ideal ataupun stabil agar selanjutnya dapat diterapakn pada pelayanan kefarmasian dalam kehidupan masyarakat.


B.     Tujuan

        Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini adalah yaitu agar kita selaku tenaga farmasis dapat mengetahui cara pembuatan ataupun peracikan sediaan suspensi yang ideal dan stabil sehingga pengemasan dan penandaan (pemberian etiket ) sesuai dengan persyaratan farmaseutika.







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

        Berdasarkan Farmakope Indonesia edisi III, suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa.
       Sedangkan pada Formularium Nasional edisi II menjelaskan bahwa suspensi  adalah sediaan cair yang mengandung obat padat, tidak melarut dan terdispersikan sempurna dalam cairan pembawa, atau sediaan padat terdiri dari obat dalam bentuk serbuk halus, dengan atau tanpa zat tambahan yang akan terdispersikan sempurna dalam cairan pembawa yang ditetapkan. Namun disisi lain, pada Farmakope Indonesia edisi IV menjelaskan bahwa suspensi  adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair.

Ciri-ciri sediaan suspensi adalah :
·         Terbentuk dua fase yang heterogen
·         Berwarna keruh
·         Mempunyai diameter partikel > 100 nm
·         Dapat disaring dengan kertas saring biasa
·         Akan memisah jika didiamkan                                                                                                                       

Macam-macam suspensi
1.      Berdasarkan penggunaan
·         Suspensi oral, sediaan cair yang mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditujukan untuk penggunaan oral.
·         Suspensi topikal, sediaan cair yang mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk penggunaan pada kulit.
·         Suspensi tetes telinga, sediaan cair mengandung partikel-partikel halus yang ditujukan untuk diteteskan pada telinga bagian luar.
·         Suspensi opthalmatik, sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata.

2.      Berdasarkan istilah
·         Susu, untuk suspensi dalam pembawa yang mengandung air yang ditujukan untuk pemakaian oral. Contohnya : susu magnesia.
·         Magma, suspensi zat padat anorganik dalam air seperti lumpur, jika zat padatnya mempunyai kecenderungan terhidrasi dan teragregasi kuat yang menghasilkan konsistensi seperti gel dan sifat reologi tiksitronik. Contoh : magma bentonit.
·         Lotio, untuk golongan suspensi topikal dan emulsi untuk pemakaian pada kulit.

3.      Berdasarkan sifat
·         Suspensi deflokulasi, dalam sistem deflokulasi partikel deflokulasi mengendap perlahan dan akhirnya membentuk sedimen, dimana terbentuk agregasi dan terbentuk cake yang keras serta sukar tersuspensi kembali.
·         Suspensi flokulasi, dalam sistem flokulasi partikel terflokulasi yaitu terikat lemah, cepat mengendap dan pada penyimpanan tidak terjadi “ cake “ dan mudah tersuspensi kembali.

Keuntungan dari sediaan suspensi yaitu :
·         Baik digunakan untuk pasien yang sukar menerima tablet atau kapsul, terutama anak-anak.
·         Homogenitas tinggi.
·         Lebih mudah diabsorpsi daripada tablet atau kapsul ( karena luas permukaan kontak antara zat aktif dan saluran cerna meningkat ).
·         Dapat menutupi rasa tidak enak atau pahit obat ( dari larut / tidaknya ).
·         Mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air.


Disamping mempunyai kelebihan, sediaan suspensi juga mempunyai kekurangan yaitu :
·         Kestabilan rendah ( pertumbuhan kristal jika penuh, degradasi, dll ).
·         Jika membentuk “ cacking “ akan sulit terdispersi kembali sehingga menyebabkan homogenitasnya turun.
·         Alirannya menyebabkan sukar untuk dituang,
·         Ketetapan dosis lebih rendah daripada bentuk sediaan larutan.
·         Pada saat penyimpanan, memungkinkan terjadinya perubahan sistem dispersi ( cacking, flokulasi, deflokulasi ) terutama jika terjadi fluktuasi / perubahan temparatur.
·         Sediaan suspensi harus dikocok terlebih dahulu untuk memperoleh dosis yang diinginkan.

Syarat- syarat suspensi yaitu :
·         Suspensi tidak boleh diinjeksikan secara I.V dan intratekal.
·         Suspensi yang dinyatakan untuk digunakan dengan cara tertentu harus mengandung zat anti mikroba.
·         Suspensi harus dikocok sebelum digunakan.
·         Suspensi harus disimpan dalam wadah tertutup rapat.

Komposisi sediaan suspensi yaitu :
1.      Zat aktif
2.      Bahan tambahan :
a.       Bahan pensuspensi / suspending agent, fungsinya adalah untuk memperlambat pengendapan, mencegah penurunan partikel, dan mencegah penggumpalan resin, dan bahan berlemak. Conoh untuk golongan polisakarida yaitu seperti gom akasia, tragakan, alginat starc.sedangkan pada golongan selulosa larut air yaitu seperti metil selulosa, hidroksi etilselulosa, avicel, dan na-cmc.untuk golongan tanah liat misalnya seperti bentonit, aluminium magnesium silikat, hectocrite, veegum. Sementara itu untuk golongan sintetik seperti carbomer, carboxypolymethylene, colloidal silicon dioxide.
b.      Bahan pembasah ( wetting agent ) / humektan, fungsinya adalah untuk menurunkan tegangan permukaan bahan dengan air ( sudut kontak ) dan meningkatkan dispersi bahan yang tidak larut. Misalnya gliserin, propilenglikol, polietilenglikol, dll.
c.       Pemanis, fungsinya untuk memperbaiki rasa dari sediaan. Misalnya sorbitol dan sukrosa.
d.      Pewarna dan pewangi, dimana zat tambahan ini harus serasi. Misalnya vanili, buah-buahan berry, citrus, walnut, dll.
e.       Pengawet, sangat dianjurkan jika didalam sediaan tersebut mengandung bahan alam, atau bila mengandung larutan gula encer ( karena merupakan tempat tumbuh mikroba ). Selain itu, pengawet diperlukan juga bila sediaan dipergunakan untuk pemakaian berulang. Pengawet yang sering ddigunakan adalah metil atau propel paraben, asam benzoat / na benzoat, chlorbutanol, dan senyawa ammonium.
f.       Antioksidan, jarang digunakan pada sediaan suspensi kecuali untuk zat aktif yang mudah terurai karena teroksidasi.misalnya hidrokuinon, asam galat, kasein, sisteina hidroklorida, dan juga timol.
g.      Pendapar, fungsinya untuk mengatur pH, memperbesar potensial pengawet, meningkatkan kelarutan. Misalnya dapar sitrat, dapar fosfat, dapar asetat, dan juga dapar karbonat.
h.      Acidifier, fungsinya untuk mengatur pH, meningkatkan kestabilan suspensi, memperbesar potensial pengawet, dan meningkatkan kelarutan. Misalnya asam sitrat.
i.        Flocculating agent, merupakan bahan yang dapat menyebabkan suatu partikel berhubungan secara bersama membentuk suatu agregat atau floc. Misalnya polisorbat 80 ( untuk surfaktan ), tragakan ( polimer hidrofilik ), bentonit ( untuk clay ), dan juga NaCl ( untuk elektrolit ).

Stabilitas dari suatu suspensi yaitu :
·         Suspensi tidak boleh terlalu viskes
·         Untuk lotio ( eksternal ) harus mudah menyebar pada daerah pemakaian.
·         Cepat kering membentuk lapisan film pelindung.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi suspensi yaitu :
·         Ukuran dari partikel suspensi.
·         Kekentalan atau viskositas.
·         Tolak-menolak antarpartikel karena adanya muatan listrik pada partikel.
·         Konsentrasi suspensoid.

Karakteristik dari suatu suspensi yang ideal yaitu :
·         Pengendapan pada suspensi harus perlahan-lahan terjadi.
·         Bila terjadi endapan dengan pengocokan sedikit bahan partikel pada larutan suspensi dapat terdispersi kembali dengan cepat.
·         Harus mudah penuangan obat dari wadahnya.
·         Bebas dari partikel asing.
·         Harus bebas dari kontaminasi  mikroba.
·         Jika mengandung partikel asing harus disaring.

Adapun sifat-sifat yang diinginkan dalam suatu suspensi farmasi yaitu :
·         Suatu suspensi farmasi yang dibuat dengan tepat mengendap secara lambat dan harus rata lagi bila dikocok.
·         Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga ukuran partikel dari suspensoid tetap agak konstan untuk lama pada penyimpanan.
·         Suspensi harus bisa dituang dari wadah dengan cepat dan homogen.
          Dalam pembuatan suspensi, pembasahan partikel dari serbuk yang tak larut di dalam cairan pembawa adalah langkah yang penting. Kadang-kadang adalah sukar mendispersi serbuk, karena adanya udara, lemak, dan lain-lain kontaminan. Serbuk tadi tidak dapat segera dibasahi, walaupun BJ-nya besar mereka mengambang pada permukaan cairan. Pada serbuk yang halus mudah kemasukan udara dan sukar dibasahi meskipun ditekan dibawah permukaan dari suspensi medium. Mudah dan sukar terbasahinya serbuk dapat dilihat dari sudut kontak yang dibentuk serbuk dengan permukaan cairan. Serbuk yang sulit dibasahi oleh air, disebut hidrofob, seperti sulfur, carbo adsorben, magnesia stearas dan serbuk yang mudah dibasahi oleh air disebut hidrofil seperti toluen, zinci oxidi, magnesia carbonas.
        Dalam pembuatan suspensi penggunaan surfaktan ( wetting agent ) adalah sangat berguna dalam penurunan tegangan antar muka antara partikel padat dan cairan pembawa. Sebagai akibat turunnya tegangan antar muka akan menurunkan sudut kontak, dan pembasahan akan dipermudah.
         Gliserin dapat berguna dalam penggerusan zat yang tidak larut karena akan memindahkan udara diantara partikel-partikel hingga bila ditambahkan air dapat menembus dan membasahi partikel karena lapisan gliserin pada permukaan partikel mudah campur dengan air. Maka itu pendispersian partikel dilakukan dengan menggerus dulu partikel dengan gliserin, propilenglikol, koloid gom baru diencerkan dengan air, hal ini sudah terkenal dalam praktek farmasi.
Pada pembuatan suspensi, untuk mencegah pertumbuhan cendawan, ragi dan jasadrenik lainnya, dapat ditambahkan zat pengawet yang cocok, terutama untuk suspensi yang akan diwadahkan dalam wadah satuan ganda atau wadah dosis ganda.
Membuat suspensi stabil secara fisis ada 2 kategori yaitu :
·         Pada penggunaan “ structured vehicle “ untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi structured vehicle, adalah larutan hidrokoloid seperti tilose, gom, bentonit, dll.
·         Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok, meskipun terjadi cepat pengendapan, tetapi dengan pengocokan ringan mudah disuspensikan kembali.
Pembuatan suspensi dapat dibuat dengan 2 cara yaitu :
·         Metode dispersi
·         Metode presipitasi, ada 3 macam :
ü  Presipitasi dengan pelarut organik
ü  Presipitasi dengan penambahan pH dari media.
ü  Presipitasi dengan dekomposisi rangkap.



v  RESEP NO.9
Dr. Alphian .SIP 859458/SIP/2001
Jln. Mekar 18 Kendari
R/        Chloramphenicol palmitat       2,875
            CMC Na                                 0,5
            Polysorbat 80                          0,25
            Propilenglikol                          10
            Sir. Simplex                             15
            Aqua ad                                  50
Pro : Putri


KELENGKAPAN RESEP
Dr. Alphian
SIP. 859458/SIP/2001
Jln. Mekar  18 Kendari
Telp. 58474565
No. 009                                   04-05-2011
R/        Chloramphenicol palmitat       2,875
            CMC Na                                 0,5
            Polysorbat 80                          0,25
            Propilenglikol                          10
            Sir. Simplex                             15
            Aqua ad                                  50
            m.f.d. s3 dd c1  

Pro       : Putri
Umur   : Dewasa
Alamat : Jln. Rambutan No.4

 





                                                                                                          















            Keterangan :
·         R/                    : Recipe                       : Ambillah
·         m.f.d.s             : misce fac da signa     : campur buat dan tandai
·         3 dd                 : ter de die                   : 3 x sehari
·         c 1                   : cochlear unum           : 1 sendok
·         pro                   : propere                      : untuk
v  PERMASALAHAN
Suspensi dengan cara pengendapan kembali

v  PENYELESAIAN PERMASALAHAN
Memperkecil diameter partikel bahan aktif dalam suspense

v  URAIAN BAHAN
1.      CHLORAMPHENICOL PALMITAT ( FI Edisi III Hal. 145 )
Nama resmi           : CHLORAMPHENICOLI PALMITAS
Nama sinonim       : kloramfenikol palmitat
Rumus molekul     : C27H42Cl2N2O6
Berat molekul          : 561,56
Pemerian               : serbuk hablur halus, licin, putih, bau lemah,rasa tawar
Kelarutan              : praktis tidak larut dalam air, larut dalam 45 bagian
  etanol (95%)p, dalam 6 bagian kloroform p, dan
  dalam 14 bagian eter p
Penyimpanan         : dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
Khasiat                  : antibiotikum ( obat yang dihasilkan mikroorganisme
  yang dapat menghambat pertumbuhan atau dapat
  membunuh mikroorganisme lain )

2.      CMC Na ( FI Edisi III Hal. 401 )
Nama resmi           : NATRII CARBOXYMETHYLCELLULOSUM
Nama sinonim       : natrium karboksimetil selulosa
Pemerian               : serbuk atau butiran, putih atau putih kuning gading,
  tidak berbau atau hampir tidak berbau, higroskopik
Kelarutan              : mudah mendispersi dalam air, membentuk suspensi
  koloidal, tidak larut dalam etanol (95%)p, dalam eter p
  dan dalam pelarut organic lain
Penyimpanan         : dalam wadah tertutup rapat
Khasiat                  : zat tambahan

3.      POLYSORBAT 80 (FI Edisi III Hal. 509 )
Nama resmi           : POLYSORBATUM 80
Nama sinonim       : polisorbat 80
Pemerian               : cairan kental seperti minyak, jernih, kuning, bau asam
  lemak, khas
Kelarutan                          : mudah larut dalam air, dalam etanol (95%)p, dalam
  etil asetat p, dan dalam methanol p,sukar larut dalam
  parafin cair p dan dalam minyak biji kapas p
Penyimpanan         : dalam wadah tertutup rapat
Khasiat                  : zat tambahan

4.      PROPILENGLIKOL ( FI. Edisi III Hal. 534 )
Nama resmi           : PROPYLENGLYCOLUM
Nama sinonim       : propilenglikol
Rumus molekul     : C3H8O2
Berat molekul        : 76,10
Pemerian               : Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau,
  rasa agak manis, higroskopik
Kelarutan              : Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%)p, dan
  dengan kloroform p, larut dalam 6 bagian eter p, tidak
  dapat campur dengan eter minyak tanah p, dan dengan
  minyak lemak
Penyimpanan         : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat                  : Zat tambahan, pelarut


5.      SIR. SIMPLEX (FI. Edisi III Hal. 567 )